PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN

27 06 2008

Learning is fun.

Belajar itu menyenangkan. Tapi, siapa yang menjadi stakeholder dalam proses pembelajaran yang menyenangkan itu? Jawabannya adalah siswa. Siswa harus menjadi arsitek dalam proses belajar mereka sendiri. Kita semua setuju bahwa pembelajaran yang menyenangkan merupakan dambaan dari setiap peserta didik. Karena proses belajar yang menyenangkan bisa meningkatkan motivasi belajar yang tinggi bagi siswa guna menghasilkan produk belajar yang berkualitas. Untuk mencapai keberhasilan proses belajar, faktor motivasi merupakan kunci utama. Seorang guru harus mengetahui secara pasti mengapa seorang siswa memiliki berbagai macam motif dalam belajar. Ada empat katagori yang perlu diketahui oleh seorang guru yang baik terkait dengan motivasi “mengapa siswa belajar”, yaitu (1) motivasi intrinsik (siswa belajar karena tertarik dengan tugas-tugas yang diberikan), (2) motivasi instrumental (siswa belajar karena akan menerima konsekuensi: reward atau punishment), (3) motivasi sosial (siswa belajar karena ide dan gagasannya ingin dihargai), dan (4) motivasi prestasi (siswa belajar karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya).

Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Fokus pembelajarannya adalah pada ‘mempelajari cara belajar’ (learning how to learn) dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran. Sedangkan pendekatan, strategi dan metoda pembelajarannya adalah mengacu pada konsep konstruktivisme yang mendorong dan menghargai usaha belajar siswa dengan proses enquiry & discovery learning. Dengan pembelajaran konstruktivisme memungkinkan terjadinya pembelajaran berbasis masalah. Siswa sebagai stakeholder terlibat langsung dengan masalah, dan tertantang untuk belajar menyelesaikan berbagai masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan skenario pembelajaran berbasis masalah ini siswa akan berusaha memberdayakan seluruh potensi akademik dan strategi yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalah secara individu/kelompok. Prinsip pembelajaran konstruktivisme yang berorientasi pada masalah dan tantangan akan menghasilkan sikap mental profesional, yang disebut researchmindedness dalam pola pikir siswa, sehingga kegiatan pembelajaran selalu menantang dan menyenangkan.

Mengapa Pakem.

Pakem yang merupakan singkatan dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).

Pelaksanaan Pakem harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya. Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metoda/atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa.

Peranan Seorang Guru.

Agar pelaksanaan Pakem berjalan sebagaimana diharapkan, John B. Biggs and Ross Telfer, dalam bukunya “The Process of Learning”, 1987, edisi kedua, menyebutkan paling tidak ada 12 aspek dari sebuah pembelajaran kreatif, yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang guru yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa:

1. Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuai

dengan kecenderungan bakat dan minat mereka,

2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan,

3. Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka,

4. Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi mereka,

5. Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya.

6. Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata.

7. Memuji keindahan perbedaan potensi, karakter, bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa,

8. Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri,

9. Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa.

10. Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa,

11. Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif, kolaboratif, inkuiri dan diskaveri agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa.

12. Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam.

Selanjutnya bentuk-bentuk pertanyaan yang dapat menggugah terjadinya ”pembelajaran aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan” (Pakem), bisa diterapkan antara lain dalam salah satu
3


kegiatan belajar kelompok (studi kasus). Menurut Wassermen (1994), pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan pemikiran yang dalam untuk sebuah solusi atau yang bersifat mengundang, bukan instruksi atau memerintah. Misalnya dengan menggunakan kata kerja : menggambarkan, membandingkan, menjelaskan, menguraikan atau dengan menggunakan kata-kata: apa, mengapa atau bagaimana dalam kalimat bertanya. Berikut adalah beberapa contoh bentuk pertanyaan yang bisa memberikan respon kreatif terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

1. Jelaskan bagaimana situasi ini bisa ditangani secara berbeda ?

2. Bandingkan situasi ini dengan situasi sekarang !

3. Ceriterakan contoh yang sama dengan pengalaman Anda sendiri !

Para siswa bisa juga diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang nampaknya sesuai dengan semua skenario. Contoh pertanyaan-pertanyaan berikut dapat memprovokasi siswa untuk berpikir tentang kasus yang dibahas.

1. Apa yang Anda bayangkan sebagai kemungkinan dari akibat tindakan tersebut ?

2. Dengan melihat kebelakang, bagaimana Anda menilai diri Anda sendiri ?

3. Dengan mengatakan yang sesungguhnya, apa kesimpulan Anda tentang isu penting itu ?

Proses pembelajaran akan berlangsung seperti yang diharapkan dalam pelaksanaan konsep
Pakem jika peran para guru dalam berinteraksi dengan siswanya selalu memberikan motivasi,
dan memfasilitasinya tanpa mendominasi, memberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif,
membantu dan mengarahkan siswanya untuk mengembangkan bakat dan minat mereka melalui
proses pembelajaran yang terencana. Perlu dicatat bahwa tugas dan tanggung jawab utama para
guru dalam paradigma baru pendidikan ”bukan membuat siswa belajar” tetapi ”membuat
siswa mau belaja
r”, dan juga ”bukan mengajarkan mata pelajaran” tetapi ”mengajarkan cara
bagaimana mempelajari mata pelajaran ”.
Prinsip pembelajaran yang perlu dilakukan: ”Jangan meminta siswa Anda hanya untuk mendengarkan, karena mereka akan lupa. Jangan membuat siswa Anda memperhatikan saja, karena mereka hanya bisa mengingat. Tetapi yakinkan siswa Anda untuk melakukannya, pasti mereka akan mengerti”.

Penilaian Hasil Belajar.

Sebuah pertanyaan untuk direnungkan. Apakah sebuah ”Penilaian Mendorong Pembelajaran ?” atau apakah ”pembelajaran itu untuk mempersiapkan sebuah tes ? ” atau apakah ’Pembelajaran dan Tes’ tersebut dilakukan guna mendapatkan pengakuan tentang kompetensi yang diperlukan siswa atau sekolah? Dalam pelaksanaan konsep Pakem, penilaian dimaksudkan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa, baik itu keberhasilan dalam proses maupun keberhasilan dalam lulusan (output). Keberhasilan proses dimaksudkan bahwa siswa berpartisipasi aktif, kreatif dan senang selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Sedangkan keberhasilan lulusan (output) adalah siswa mampu menguasai sejumlah kompetensi dan standar kompetensi dari setiap Mata Pelajaran, yang ditetapkan dalam sebuah kurikulum. Inilah yang disebut efektif dan menyenangkan. Jadi, penilaian harus dilakukan dan diakui secara komulatif. Penilaian harus mencakup paling sedikit tiga aspek : pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ini tentu saja melibatkan Professional Judgment dengan memperhatikan sifat obyektivitas dan keadilan. Untuk ini, pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP) merupakan pendekatan penilaian alternatif yang paling representatif untuk menentukan keberhasilan pembelajaran Model Pakem.

Media dan bahan ajar. ”Media dan Bahan Ajar” selalu menjasi penyebab ketidakberhasilan sebuah proses pembelajaran di sekolah. Sebuah harapan yang selalu menjadi wacana di antara para pendidik/guru kita dalam melaksanakan tugas mengajar mereka di sekolah adalah tidak tersedianya ’media pembelajaran dan bahan ajar’ yang cukup memadai. Jawaban para guru ini cukup masuk akal. Seakan ada korelasi antara ketersediaan ’media bahan ajar’ di sekolah dengan keberhasilan pembelajarn siswa. Kita juga sepakat bahwa salah satu penyebab ketidakberhasilan proses pemblajarn siswa di sekolah adalah kurangnya media dan bahan ajar. Kita yakin bahwa pihak manajemen sekolah sudah menyadarinya. Tetapi, sebuah alasan klasik selalu kita dengar bahwa ”sekolah tidak punya dana untuk itu”!.

Dalam pembelajaran Model Pakem, seorang guru mau tidak mau harus berperan aktif, proaktif dan kreatif untuk mencari dan merancang media/bahan ajar alternatif yang mudah, murah dan sederhana. Tetapi tetap memiliki relevansi dengan tema mata pelajaran yang sedang dipelajari siswa. Penggunaan perangkat multimedia seperti ICT sungguh sangat ideal, tetapi tidak semua sekolah mampu mengaksesnya. Tanpa merendahkan sifat dan nilai multimedia elektronik, para guru dapat memilih dan merancang media pembelajaran alternatif dengan menggunakan berbagai sumber lainnya, seperti bahan baku yang murah dan mudah di dapat, seperti bahan baku kertas/plastik, tumbuh-tumbuhan, kayu dan sebagainya, guna memotivasi dan merangsang proses pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Dalam kesempatan melakukan studi banding di Jerman, saya melihat bagaimana seorang guru fisika di sebuah Sekolah Kejuruan (Berlin) menggunakan alat peraga simulasi (Holikopter) yang dibuat dari kertas karton yang diapungkan didepan kelas dengan menggunakan sebuah blower untuk memudahkan para siswa dalam memahami prinsip-prinsip yang berkaitan dengan mata pelajaran fisika tersebut. Proses pembelajarannya mudah dipahami dan sangat menyenangkan. Media simulasi ini tidak dibeli sudah jadi, tetapi dirancang oleh seorang guru mata pelajaran fisika itu sendiri. Saya kira inilah yang disebut guru yang kreatif. Jadi, model ’pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan’, atau yang kita sebut dengan PAKEM itu tidak selalu mahal. Unsur kreatifitas itu bukan terletak pada produk/media yang sudah jadi, tetapi lebih pada pola fikir dan strategi yang digunakan secara tepat oleh seorang guru itu sendiri dalam merancang dan mengajarkan materi pelajarannya.

Dalam merancang sebuah media pembelajaran, aspek yang paling penting untuk diperhatikan
oleh seorang guru adalah karakteristik dan modalitas gaya belajar individu peserta didik, seperti
disebutkan dalam pendekatan ’Quantum Learning’ dan Learning Style Inventory’. Media yang
dirancang harus memiliki daya tarik tersendiri guna merangsang proses pembelajaran yang
menyenangkan. Sementara ini media pembelajaran yang relatif cukup representatif digunakan
adalah media elektronik (Computer – Based Learning). Selanjutnya skenario penyajian ’bahan
ajar’ harus dengan sistem modular dengan mengacu pada pendekatan Bloom Taksonomi. Ini
dimaksudkan agar terjadi proses pembelajaran yang terstruktur, dinamis dan fleksibel, tanpa
harus selalu terikat dengan ruang kelas, waktu dan/atau guru. Perlu dicatat bahwa tujuan akhir mempelajari sebuah mata pelajaran adalah agar para siswa memiliki kompetensi sebagaimana ditetapkan dalam Standar Kompetensi (baca Kurikulum Nasional). Untuk itu langkah/skenario penyajian pembelajarn dalam setiap topik/mata pelajaran harus dituliskan secara jelas dalam sebuah Modul.
Dengan demikian diharapkan para siswa akan terlibat dalam proses pembelajaran tuntas (Mastery Learning) dan bermakna (Meaningful Learning).

ditulis oleh: Drs. Anwar Fuady, M.Ed





PEMBELAJARAN BERPIKIR ATAU MENYONTEK?

27 06 2008

Musim ujian dan ulangan umum telah usai. Siswa-siswi ingin mengetahui lulus dan naik kelas atau tidak? Guru-guru pun sibuk koreksi pekerjaan dan mengolah nilai untuk menentukan berhasil atau tidak siswa-siswinya. Hasil ujian dan ulangan itu merupakan salah satu kriteria yang dipakai guru dalam menentukan keberhasilan atau tidak. Tanpa dipungkiri lagi bahwa dalam pelaksanaan ujian dan ulangan itu sebagian siswa-siswi menyontek. Bahkan saat ini menyontek merupakan budaya dalam belajar. Padahal arti belajar tidak sesederhana itu. Belajar berarti proses aktivitas mental yang terjadi melalui interaksi aktif individu dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan perilaku pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai yang relatif konstan. Maka benar kata Wilson Miler, “Saya mengetahui tak terhitung banyak orang belajar, namun mereka tidak pernah berpikir..

Siswa-siswi ada peluang menyontek karena proses pembelajaran selama ini lebih menekankan pada monodisiplin ilmu. Setiap guru hanya sibuk dengan materi mata pelajaran atau bidang studinya. Guru hanya berorientasi target menyelesaikan materi sehingga ada banyak konsep dan teori diberikan kepada peserta didik. Walaupun kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP) menetapkan standar kompetesi (SK) dan kompetensi dasar (KD), namun belum mendapat perhatian. Guru kurang bahkan tidak memperhatikan proses pembelajaran yang menantang, menyenangkan, mendorong siswa eksplorasi, memberi pengalaman sukses, dan mengembangkan kecakapan berpikir. Guru harus mendorong siswa bagaimana cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari, menghubungkan pengetahuan (konsep atau teori) yang dimiliki dengan yang baru dipelajari, dan mengajaknya refleksi apa yang telah diperoleh, manfaatnya, bagaimana selanjutnya dalam hidup siswa.

Kalau guru itu konsisten dengan SK dan KD tentu tidak menggunakan model pembelajaran monodisiplin. Sudah saatnya guru menerapkan pembelajaran model interdisiplin ilmu. Pembelajaran seperti ini bukan sekarang baru digembor-gemborkan. Menurut Conny R. Semiawan bahwa lima ratus tahun yang lalu sebenarnya Phytagoras sudah menerapkan pembelajaran interdisiplin. Phytagoras sudah mengkombinasikan Matematika dan musik, yaitu adanya bunyi yang harmonis dalam bilangan 1 sampai 5. Pembelajaran dengan cara mengkombinasikan interdisiplin ini disebut active interplay (AI). Sebenarnya, kita ini angkatan yang telmi (telat mikir). Baru sekarang kita mulai berpikir tentang gagasan Phytagoras itu.


Pembelajaran AI merupakan penyatuan konseptual yang memperlihatkan kerja sama aktif antardisiplin ilmu lintas batas. Selain itu, pembelajaran ini membantu peserta didik untuk menghubungkan antara konsep-konsep yang ada. Padahal dalam satu topik mata pelajaran ada cukup banyak konsep dan teori yang harus disampaikan dan dimengerti oleh peserta didik. Karena banyak konsep dan teori, guru seolah-olah mendorong peserta didik untuk menghafal konsep dan teorinya. Nah, kalau peserta didik kurang menghafal (lupa), ini membuka peluang untuk menyontek. Dengan demikian, pembelajaran hanya menciptakan peserta didik menyontek dan itu menjadi budaya dalam pembelajaran di sekolah saat ini. Pembelajaran saat ini tidak mengembangkan daya berpikir pada peserta didik sehingga kreativitas dan inovasi menjadi tumpul.

Guru merupakan garda paling depan dalam membentuk peserta didik yang cerdas secara intelektual, emosional, dan terampil. Namun, dalam proses pembelajaran guru cenderung terburu-buru menyampaikan semua konsep dan teori kepada peserta didik. Banyak konsep dan teori yang diberikan tanpa mempertimbangkan itu bermanfaat, sesuai dengan minat dan kebutuhan serta lingkungan siswa. Peserta didik yang pandai tidak mengalami kesulitan walaupun banyak konsep dan teori. Akan tetapi, peserta didik yang kemampuannya tergolong sedang bahkan lemah ini menjadi beban dan tekanan psikis. Mereka akan merasa takut, stress, tidak tenang dan sebagainya ketika hendak mengikuti ujian atau ulangan. Kalau dia sudah dihinggapi tekanan psikis, mau tidak mau jalan terbaik baginya, yaitu menyontek. Salah dan dosa siapa?

Yang jelas, guru belum mencerdaskan peserta didik. Ia hanya menjalani apa yang tertulis dalam buku pelajaran dan kurikulum. Ia belum mengolah konsep dan teori itu sehingga menjadi bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan, minat, dan kondisi peserta didik. Maka sangat tidak proporsional guru menilai kecerdasan anak hanya berdasarkan pada mampu tidaknya menjawab pertanyaan ujian atau ulangan karena kuat menghafal. Yang tidak bisa menghafal divonis tidak pandai. Di sinilah guru maupun peserta didik terjebak. Mereka sama-sama mengejar angka-angka (nilai) sebagai simbol kepandaian, padahal hasilnya menghafal. Pun tidak sekadar menghafal, tetapi masih dibantu oleh kepandaian “menyontek”. Kita sebenarnya membuang jauh hal yang prinsip dalam pendidikan di sekolah, yaitu non scolae sed vite dicimus.


Pendidikan dan pembelajaran perlu reorietasi kembali. Ia tidak sekadar mengagungkan angka-angka (nilai) di atas kertas karena hasil menghafal dan nyontek (konsep dan teori). Apa gunanya selama proses belajar mempunyai banyak konsep dan teori, tetapi peserta didik tidak mampu menerapkannya dalam hidup yang praktis. Setelah selesai ujian atau ulangan selamat tinggal konsep dan teori. Ini semua karena indikasi dari pembelajaran dengan cara monodisiplin. Sekarang saatnya kita menerapkan model pembelajaran yang interdisiplin ilmu. Model ini menghendaki guru mengadakan kolaborasi antar mata pelajaran sehingga menstimulasi cara berpikir yang kritis, tingkat tinggi dan kreatif bagi peserta didik. Mereka pun terbantu kerena mengetahui apa manfaat baginya. Di sini akan melahirkan motivasi dan minat yang tinggi untuk belajar.

Model ini mengisyaratkan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Guru dan peserta didik kreatif. Peserta didik belajar mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan dan memberi makna pada pengetahuan tersebut.

Peran guru membantu peserta didik untuk mengaitkan materi (konsep dan teori) yang dipelajari dengan situasi nyata dan mendorongnya untuk menghubungkan dan menerapkan dalam hidupnya. Guru dituntut untuk kreatif mendesain konsep dan teori pembelajaran yang bermanfaat, sedangkan peserta didik aktif dan kreatif menggunakan konsep dan teori itu untuk dipraktikkan dalam hidupnya. Dampak dari pembelajaran tersebut, peserta didik akan memahami konsep, mampu menerapkan konsep dan memecahkan masalah, serta mampu mengkreasikan sesuatu yang baru. Pembelajaran seperti ini menjadikan peserta didik mampu berpikir kritis, disiplin, kerja sama, tanggung jawab dan sebagainya. Dengan demikian, semua aspek terlatih baik kognitif, afektif, dan psikomotorik sehingga menghafal semakin berkurang bebannya apalagi menyontek. Semua mengembangkan cara berpikir yang kritis, inovatif, dan menyenangkan. Dan itu terlahir dari guru-guru yang profesional setelah lulus seleksi sertifikasi guru. Kita tunggu perubahan reorientasi dan reformasi pembelajaran yang interdisiplin dari guru-guru yang oleh sertifikasi dinyatakan profesional. Semoga!

Diperbarui dari: Gerardus Weruin, MTB





PENILAIAN BELAJAR BERBASIS KELAS

27 06 2008

Kesadaran para ahli pendidikan terhadap rendahnya penguasaan materi dan rendahnya skor hasil tes mendorong terjadinya reformasi dalam pembelajaran. Selain itu, bagaimana anak belajar dan perkembangan teori belajar ikut mendorong reformasi pembelajaran. Reformasi pembelajaran juga diikuti dengan reformasi dalam penilaian belajar.

Reformasi pembelajaran dan penilaian belajar saat ini adalah munculnya gagasan untuk memperbaharui kurikulum.

Kurikulum berbasis kompetensi (kurikulum 2004) mempromosikan bahwa belajar adalah proses membangun kecakapan hidup dan menjalankan kehidupan secara utuh, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan hidup sosial, kecakapan berpikir kritis, kecakapan melakukan penyelidikan untuk memecahkan masalah (kecakapan akademik) dan kecakapan vokasional (Depdiknas, 2002), sedangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan menekankan pada adanya otonomi pembelajaran dan menetapkan capaian hasil belajar yang lengkap dan komprehensif. Reformasi kurikulum diimplementasikan dengan diterapkannya strategi pembelajaran baru, yaitu pembelajaran konstruktivis yang kontekstual (pembelajaran kontekstual) dan penilaian belajar baru yaitu penilaian yang bersifat otentik (authentic assessment) (Pusat Kurikulum, 2001 dan Depdiknas, 2002 b) yang juga disebut dengan penilaian berbasis kelas.

Pembelajaran Kontekstual

Sistem pendidikan dengan “kurikulum berbasis kompetensi” menggunakan paradigma baru yaitu belajar berbasis kompetensi (competence – based learning). Berbeda dengan paradigma lama, pada paradigma lama siswa belajar hanya tentang pengetahuan (sebagai produk ilmu pengetahuan), pada paradigma baru siswa belajar untuk memperoleh kompetensi berupa kecakapan hidup secara menyeluruh yang meliputi : kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan

berpikir rasional, kecakapan menggunakan dan melakukan penyelidikan ilmiah dan kecakapan olah kompetensi.

Kompetensi kecakapan hidup dan menjalankan kehidupan dapat dicapai jika pembelajaran yang diterapkan membawa siswa untuk belajar sesuai dengan pengalaman nyata dan dalam konteks dunia nyata. Pembelajaran yang mempunyai konsep seperti itu disebut “pembelajaran kontekstual”. Suyanto (2002) dalam makalahnya dinyatakan prinsip-prinsip pembelajaran konstekstual adalah : pada pembelajaran perlu ditekankan pentingnya pemecahan masalah, kegiatan belajar dilakukan pada berbagai konteks, siswa belajar sendiri (Student active learning), mencakup konteks siswa yang berbeda-beda (multiculture education), siswa belajar dari sesama / bersama teman (cooperative learning), pada pembelajaran ditekankan adanya latihan berpikir tingkat tinggi, yaitu aplikatif kritis dan kreatif (discovery – inquiry) dan pembelajaran menggunakan strategi penilaian otentik (authentic assessment).

Penilaian Otentik

Penilaian otentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks “dunia nyata”, yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan. Dengan kata lain, assessment otentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia nyata. Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian otentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun berupa perubahan dan perkembangan aktivitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas. Penilaian otentik juga disebut dengan penilaian alternatif. Pelaksanaan penilaian otentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Format penilaian ini dapat berupa : a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), b) tugas (tugas ketrampilan, tugas investigasi sederhana dan tugas investigasi terintegrasi), c) format rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya : portfolio, interview, daftar cek, presentasi oral dan debat).

Beberapa pembaharuan yang tampak pada penilaian otentik adalah : a) melibatkan siswa dalam tugas yang penting, menarik, berfaedah dan relevan dengan kehidupan nyata siswa, b) tampak dan terasa sebagai kegiatan belajar, bukan tes tradisional, c) melibatkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan mencakup pengetahuan yang luas, d) menyadarkan siswa tentang apa yang harus dikerjakannya akan dinilai, e) merupakan alat penilaian dengan latar standar (standard setting), bukan alat penilaian yang distandarisasikan, f) berpusat pada siswa (student centered) bukan berpusat pada guru (teacher centered), dan g) dapat menilai siswa yang berbeda kemampuan, gaya belajar dan latar belakang kulturalnya.

Penilaian Alternatif dalam Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian terhadap siswa tidak hanya mencakup penilaian perubahan atau perkembangan perilaku belajar setelah siswa menempuh suatu pelajaran tertentu. Penilaian terhadap perubahan dan perkembangan diri siswa dalam proses pembelajaran seharusnya juga mencakup : kecakapan dan pengetahuan awal (prior knowledge), aktivitas dan kecakapan yang tampak pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung di kelas, dan aktivitas pengetahuan / kecakapan siswa yang dilaksanakan dan diperoleh di luar kelas atau di lingkungan hidup sehari-hari.

Format penilaian alternatif berupa “portfolio, presentasi oral dan debat, laporan tertulis dan interview” dan penjelasannya sebagai berikut. “Portfolio” adalah format penilaian belajar berupa catatan atau bukti mengenai ketrampilan, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki atau diperoleh siswa dalam proses belajar. Portfolio dapat berisi : hasil tes, laporan praktikum, laporan tugas diluar

kelas, hasil pekerjaan dari tugas-tugas di kelas dan di rumah, catatan hasil kegiatan mandiri yang terkait dengan bahan pelajaran di sekolah. Portofolio sangat berguna bagi guru karena tidak semua assessment dapat dilakukan dan hasilnya tidak dapat diadministrasikan secara langsung oleh guru. Portfolio dapat dibuat oleh guru untuk setiap individu atau kelompok siswa. Disamping itu guru juga dapat meminta kepada siswa untuk membuat portfolio untuk kegiatan dan hasil kegiatan yang dilakukan sendiri baik kegiatan yang ada di dalam kelas maupun kegiatan yang ada di luar kelas. Hal ini dimaksudkan dengan portofolio guru dapat meniali kegiatan, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman siswa baik yang teramati sendiri maupun tidak, baik terhadap kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas, karena portofolio berguna untuk memonitor dan menilai ketrampilan, pengalaman, dan pengetahuan siswa pada unit-unit pembelajaran satu konsep, setengah semester, satu semester atau satu tahun.

Format yang berikutnya adalah “presentasi oral dan debat” adalah format penilaian untuk memonitor dan menilai ketrampilan atau kecakapan siswa dalam mengkomunikasikan pengetahuan dan pengalaman belajarnya secara lisan. Dalam mengkomunikasikan secara lisan sebaiknya dilakukan seseorang siswa atau sekelompok siswa kepada teman sekelas. Agar terjadi interaksi antar siswa, presentasi oral perlu disertai dengan debat atau tanya jawab antara penyaji dengan siswa lain. Dalam presentasi oral dan debat guru dapat menilai ketrampilan berbicara, penguasaan konsep atas materi yang disajikan, ketrampilan logika dan ketrampilan menjawab pertanyaan, ketrampilan menerima pendapat orang lain.

Selain format portofolio dan format presentasi oral, format berikutnya adalah “laporan tertulis” yaitu laporan yang dibuat oleh siswa secara tertulis mengenai ketrampilan, pengelaman dan pengetahuan setelah menyelesaikan tugas tertentu. Penilaian terhadap laporan tertulis dapat meliputi kebenaran penguasaan konsep, kebenaran / ketepatan prosedur pelaksanaan tugas, kebenaran prosedur penulisan laporan, kebenaran penulisan data dan analisis data serta kebenaran penarikan kesimpulan, sedangkan format yang terakhir adalah “interview” yaitu penilaian terhadap ketrampilan, pengalaman dan pengetahuan siswa melalui wawancara. Kegiatan wawancara dapat dilakukan oleh guru, juga dapat dilakukan

oleh siswa sebaya. Melalui wawancara guru dapat mengetahui tingkat keaktifan, kecakapan dan kebenaran penguasaan konsep siswa terhadap materi pelajaran tertentu.

Kesimpulan

Pesan yang harus diperhatikan dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah bahwa pembelajaran bukan lagi hanya sebatas pembelajaran pengetahuan, melainkan pembelajaran mengenai kecakapan untuk memecahkan masalah­masalah hidup, dengan ranah-ranah kecakapan pribadi, hidup sosial, berpikir kritis, dan kecakapan olah ketrampilan. Disamping itu orientasi pembelajaran pada kurikulum berbasis kompetensi adalah pembelajaran kontekstual. Implikasi dari perubahan-perubahan orientasi pendidikan dan pembelajaran adalah pola penilaian pembelajaran. Pola penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah penilaian berbasis kelas atau penilaian otentik.

Hal-hal yang terkait dengan penerapan penilaian otentik atau penilaian berbasis kelas adalah : 1) penilaian belajar tidak dapat hanya dilaksanakan secara eksidental (tes sumatif, ujian akhir) tetapi perlu dilaksanakan secara terus-menerus di dalam proses pembelajaran, dan 2) penilaian belahar tidak hanya mencakup konsep esensial materi pelajaran menurut ahlinya, tetapi juga melibatkan konsep esensial sesuai dengan konteks dunia nyata siswa.

Diperbarui dari: Sutansi

Daftar Rujukan

Depdiknas, 2002, Konsep Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education) Melalui Pendekatan Pendidikan Berbasis Kelas (Broad-Based Education) : Bahan Workshop Sosialisasi Program Pendidikan Menengah Umum Tahun 2002.

Suyanto, 2003. Skenario Pembelajaran : Makalah Disajikan Dalam Semlok Pembelajaran Kontekstual Bagi Guru Pamong Dan Dosen Pembimbing PPL Universitas Negeri Malang : Tanggal 23 – 24 Juni 2003 Di UPT PPL Universitas Negeri Malang. Malang : UPT PPL Universitas Negeri Malang.





PEMBELAJARAN QUANTUM

23 06 2008

Belajar Kuantum

Sebelum membahas tentang belajar kuantum, pada bagian ini perlu ditekankan kembali pentingnya melakukan revolusi pembelajaran.  Jika institusi pendidikan ingin berhasil mengantarkan para peserta didiknya untuk mampu hidup layak dalam kehidupan masyarakatnya kelak, maka tidak ada resep lain kecuali melakukan perubahan dan inovasi dalam kegiatan pembelajaran secara kreatif dan terus-menerus. Bahkan bagi dunia persekolahan kita bukan hanya sekedar perubahan biasa tetapi perlu melakukan revolusi pembelajaran. Revolusi pembelajaran yang dilakukan jangan hanya terkait dengan implementasi KBK, melainkan harus didasarkan pada keinginan mengembalikan fungsi pendidikan sesuai dengan filosofinya, yaitu “mengantarkan anak didik menyosong hidupan yang layak dalam masyarakatnya kelak”. Seperangkat metode pembelajaran dan falsafah belajar yang diduga dapat mengembalikan fungsi pendidikan sebagaimana mestinya adalah belajar kuantum (quantum learning), apabila dirancang dan diimplementasikan secara benar.

Belajar kuantum berakar dari prinsip “suggestology” atau “suggestopedia” yang dikembangkan oleh Geogi Lozanov yang menjelaskan bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Artinya, hasil belajar yang dicapai oleh anak didik (pembelajar) akan baik apabila lingkungan, proses, dan sumber-sumber belajar memberikan sugesti positif pada dirinya, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, agar terjadi belajar kuantum, ciptakanlah lingkungan belajar terbaik bagi anak didik. Lingkungan belajar yang dapat menimbulkan pikiran dan sikap positif. Lingkungan belajar yang aman dan mendukung bertumbuh dan berkembangnya kepercayaan dan citra diri anak didik. Lingkungan belajar dengan suasana nyaman, indah, cukup penerangan, dan bila perlu disertai alunan musik, dan dudukung oleh proses belajar yang variatif, banyak terobosan, perubahan, permainan yang edukatif, partisipatif, serta sumber-sumber belajar yang dapat memberi pengalaman yang mampu meningkatkan “AMBAK” dan menimbulkan getaran emosi (emotional thrill) pada diri anak didik, “AHA”.

Lingkungan dan suasana belajar demikian akan mendorong kemunculan sugesti-sugesti positif sehingga menjadi cahaya yang mampu menjadi lokomotif yang dapat membangkitkan energi belajar. Ingatlah rumus yang sangat terkenal dalam fisika kuantum (E = m.c2), energi sama dengan massa kali kuadrat kecepatan cahaya. Pemberian label “belajar kuantum“ sesungguhnya meminjam dari konsep fisika kuantum. Kenyataannya memang benar bahwa tubuh kita secar fisik adalah materi yang memiliki massa dan dilengkapi dengan seperangkat peralatan belajar termasuk otak. Ketika belajar, kita membutuhkan sebanyak mungkin cahaya: kepercayaan diri, minat, motivasi, AMBAK, interaksi, hubungan, kooperasi-kolaborasi, dan inpirasi untuk diubah menjadi energi pembangkit belajar.

Belajar kuantum juga terkait dengan aspek-aspek penting dari neurolinguistic program (NLP), yaitu serangkaian penelitian yang mengkaji tentang bagaimana otak bekerja dalam mengatur informasi. Dengan demikian, belajar kuantum menghubungkan dua bidang utama, yaitu hasil-hasil penelitian modern tentang otak yang menakjubkan dengan kekuatan dari kemudahan memperoleh informasi dan pengetahuan. Artinya, untuk membelajarkan anak, kita juga harus belajar bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang sangat brilian dalam diri manusia, hampir tidak terbatas daya atau kemampuannyanya yang terdiri dari milyaran sel dan trilyunan penghubung, yaitu otak. Selain itu, kemudahan dalam menggali informasi dalam berbagai bentuk, hampir semua orang berkesempatan untuk memanfaatkannya, dan menghubungkan setiap orang dalam jaringan global melalui jaringan internet yang disebut learning web, harus kita manfaatkan seoptimal mungkin untuk mempercepat revolusi pembelajaran melalui informasi dan inovasi. Selanjutnya, merupakan kewajiban kita sebagai guru untuk mengemasnya dalam bentuk aktivitas pembelajaran untuk membelajarkan anak didik.

Belajar kuantum juga terkait erat dengan konsep “percepatan belajar” (accelerated learning), yaitu yaitu seperangkat metode dan teknik pembelajaran yang memungkinkan anak didik belajar dengan kecepatan yang mengesankan, tetapi melalui upaya yang normal dan penuh keceriaan. Belajar kuantum  menyatukan permainan, hiburan, cara berpikir dan bersikap positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional yang terpelihara yang dikemas secara sinergi dalam aktivitas pemebelajaran mendorong terjadinya belajar yang efektif sehingga memungkinkan terjadinya percepatan belajar .

Gambaran ringkas tentang belajar kuantum sebagaimana diutarakan di atas memberi isyarat kepada kita bahwa pembelajaran yang orientasi tujuannya didominasi oleh upaya peningkatan kemampuan kognitif saja, saat ini sudah tidak layak lagi. Hasil penelitian Daniel Goleman  memberi bukti yang cukup mengejutkan bahwa aspek kognitif atau intelektual hanya 20% sumbangannya terhadap keberhasilan seseorang dalam hidupnya, selebihnya yaitu 80% ditentukan oleh kecerdasan emosional. Artinya kecerdasan emosional dan kecerdasan-kecerdasan lainnya, sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Kenyataan ini mendorong dilakukannya reorientasi tujuan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran seyogyanya dilaksanakan dengan tujuan yang lebih berdeferensiasi mencakup bukan hanya pada upaya peningkatan kecerdasan intelektual, melainkan juga mencakup kecerdasan emosional dan kecerdasan lainnya, karena manusia memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligence), dan belajar kuantum memungkinkan untuk itu, jika dilaksanakan dengan baik dan terencana.

Pada akhir bagian ini sekali lagi ditekankan bahwa revolusi pembelajaran mutlak perlu dilakukan karena pembelajaran dewasa ini terlalu banyak mengandalkan pada kemampuan mendengar anak  dalam menangkap materi pembelajaran, sehingga hasil belajar yang dicapai  tidak maksimal. Padahal manusia adalah makhluk unik, ia bisa belajar melalui : (1) pendengaran, (2) penglihatan, (3) pengecapan, (4) sentuhan, (5) penciuman, (6) melakukan, (7) hayalan, (8) intuisi, dan (9) perasaan. Semua kemampuan itu harus diberdayakan agar kemampuan-kemampuan itu terlatih sekaligus pembelajaran menjadi lebih efektif. Fleksibilitas metode dan teknik dalam belajar kuantum memungkinkan untuk memberdayakan semua kemampuan itu.

Selintas tentang Otak dan Cara Kerjanya

Penelitian tentang otak manusia telah dilakukan ratusan bahkan ribuan tahun tahun yang lalu. Perkembangan penelitian yang sangat pesat tentang otak manusia terjadi pada abad keduapuluh khususnya pada tahun 1990-an. Pembahasan pada tulisan ini tidak akan mengupas tentang perkembangan teori tentang otak manusia dari berbagai penelitian yang dihasilkan, tetapi akan lebih menekankan pada teori tentang otak yang paling mutakhir yaitu teori belahan otak dan pembahasannya pun tidak terlalu rinci, karena tulisan ini bertujuan untuk memberikan memancing peserta untuk menelusuri dan mengkaji lebih dalm tentang otak dan cara kerjanya.

Menurut teori belahan otak atau sering disebut teori otak kanan otak kiri, otak terbagi kedalam dua belahan yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan otak ini terdiri dari cerebralcortex atau neocortex termasuk belahan sistem limbic-nya. Kedua belahan otak ini dihubungkan oleh tiga penghubung yaitu Corpus Colasum, Hippocompal Commissure, dan Anterior  Commissure. Belahan otak kiri (left cortex) mengendalikan bagian tubuh sebelah kanan sedangkan belahan otak kanan (right cortex) mengendalikan bagian tubuh sebelah kiri. Belahan otak kiri berperan dalam kegiatan motorik (motor sequence) sedangkan belahan otak kanan berperan dalam kegiatan berkenaan dengan sonsor-sensor rasa (sensory sequence). Pembagian fungsi berkenaan dengan mental skills untuk memproses dan menyimpan informasi antara belahan otak kanan dengan belahan otak kiri berbeda. Belahan otak kanan berhubungan dengan proses dan penyimpanan informasi tentang gambar, imajinasi, warna, ritme, dan ruang; Dalam kerjanya otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Belahan otak kiri berhubungan dengan bilangan/angka, kata-kata, logika, urutan atau daftar, dan detail atau rincian-rincian. Dalam kerjanya, belahan otak kiri berrsifat logis, sekuensial, linier, dan rasional.

Ada empat karakteristik utama dari otak manusia dalam melaksanakan fungsinya, yaitu: (1) Spesialisasi; ada pembagian fungsi secara khusus dari bagian-bagian otak. Misalnya, batang otak (otak reptil) memiliki spesialisasi fungsi motor sensori, kelangsungan hidup, hadapi atau lawan; Sistem limbic memiliki spesialisai fungsinya dengan perasaan/emosi, berperan aktif dalam memori, bioritmik dan sistem kekebalan; Neocorteks (otak berpikir) memiliki spesialisasi fungsi berpikir intelektual, penalaran, perilaku waras, logika berbahasa, dan kecerdasan tingkat tinggi. (2) Keterkaitan; otak penuh dengan berbagai penghubung (connectors) yaitu serat-serat pada otak. Serat-serat ini berfungsi sebagai pembawa pesan yang digunakan oleh berbagai bagian otak yang berbeda untuk digunakan berkomunikasi antara satu dengan lainnya. (3) Situasional; bagian-bagian otak dengan fungsinya masing-masing bekerja secara situasional sesuai dengan sedang bekerja atau tidaknya bagian otak itu. Misalnya ketika seorang sedang berkhayal maka otak yang berfungsi untuk berkhayal menjalankan fungsinya sedangkan bagian otak lain seperti fungsi berhitung istirahat. (4) Iterasi; yaitu gerak bolak-balik melalui isyarat-isyarat (signal) diantara pusat-pusat  spesialisasi pada otak baik pada belahan otak yang sama maupun antar kedua belahan otak.

Agar otak bisa bekerja atau belajar dengan baik, maka otak harus sehat. Kondisi eksternal mempengaruhi kondisi internal otak. Ada empat fungsi dasar otak yang harus difungsinkan dengan benar agar otak sehat, yaitu:

1. Struktur fisik dan lingkungan kimiawinya; otak akan berkerja optimal bila secara fisik sehat dan lingkungan kimiawinya tidak terkontaminasi oleh zat-zat asing seperti alkohol, atau zat-zat adiktif lainnya.

2. Menerima informasi dari waktu ke waktu melalui indra; agar otak bisa bekerja dengan baik maka otak harus difungsikan sebagaimana mestinya dengan cara memperbanyak informasi yang masuk kedalam otak melalui pengamatan indra secara multi-indrawi.

3. Menyimpan informasi masa lalu; Otak menyimpan informasi bukan dalam bentuk baris dan kolom, tetapi dalam bentuk jaringan informasi atau sering disebut peta pikiran. Latihlah otak kita untuk menyimpan informasi-informasi penting yang sudah didapat pada masa lalu dalam bentuk peta pikiran.

4. Mengasosiasikan informasi lama dengan informasi baru; informasi baru hendaknya diasosiasikan dengan informasi lama yang sudah ada sehingga menambah retensi dan informasi menjadi bermakna.

Keempat fungsi dasar itu harus djalankan dengan baik agar otak terlatih. Berbeda dengan barang lain yang mengalami kerusakan atau kerjanya menjadi berkurang apabila sering dipakai, otak justru semakin baik kerjanya apabila sering digunakan. Oleh karena itu, gunakan otak kita untuk belajar sebagaimana fungsinya sebagai pusat belajar.

Kegiatan Pembelajaran untuk Mewujudkan Belajar Kuantum

Bagaimana kegiatan pembelajaran seyogyakan dilakukan agar terjadi belajar kuantum? Terkait dengan pertanyaan tersebut,  ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran agar efektif atau terjadi belajar kuantum, yaitu:

1.    Learning is most effective when it’s fun (Peter Kline).

Ciptakanlah suasana yang menyenangkan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Pecahkan berbagai kendala belajar yang dialami oleh anak didik. Arahkan mereka untuk bertumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri dan tidak muncul. Tampilkan suasana hati kita sebagai guru yang positif dan raihlah minat siswa. Jangan mengendalikan anak didik tapi jadilah pengasuh yang baik (ingat bagaimana Anda belajar secara kuantum ketika bertumbuh dan berkembang secara mengagumkan pada rentang usia 0 hingga 6 tahun di bawah asuhan orang tua).

2.    To learn it, do it (Robert C. Schank)

Jika belajar hanya dengan cara mendengarkan maka konten yang dipelajari akan mudah lupa, jika dengan cara melihat mungkin akan ingat tetapi belum tentu bisa, jika dengan cara melakukan maka seluruh indera kita bekerja secara aktif sehingga akan lama diingat dan pasti bisa. Oleh karena itu, lakukanlah kegiatan belajar itu dengan melibatkan anak secara aktif bukan hanya sekedar fisik tetapi aktif secara mental-emosional. Ciptakanlah alat peraga yang memungkinkan anak bisa bereksplorasi dengan melakukan berbagai hal terkait dengan materi yang diajarkan. Bila perlu dan memungkinkan, bawalah objek sesungguhnya yang dipelajari ke dalam kelas atau bawalah anak didik ke lingkungan yang relevan dengan bahan yang dipelajari.

3.    Your brain is like a sleeping giant (Tony Buzan)

Pelajarilah berbagai hasil penelitian mutahir tentang cara kerja otak. Ubahlah pengetahuan kita tentang itu semua ke dalam tindakan kita saat membelajarkan anak. Kembangkanlah kemampuan otak anak secara maksimal melalui pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir analitis, kritis, dan pemecahan masalah. Jangan biarkan otak anak didik kita terbaring terus dalam tidur yang panjang, atau jangan biarkan otak anak bekerja sambil terkantuk-kantuk. Perhatikan agar kemampuan belahan otak kanan dan kiri anak bisa berkembang secara seimbang.

4.    The traditional education system is Obsolute (Richard L. Measelle)

Dewasa ini kegiatan pembelajaran lebih cenderung bersifat tertutup dan mutlak. Jika guru bertanya dan siswa menjawab tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka guru akan menyalahkan seolah-olah jawaban yang benar itu mutlak/tertutup dan tidak ada alternatif jawaban lain. Perlu diingat bahwa: “Anak didik tidak pernah salah dalam menjawab pertanyaan, mereka menjawab sesuai dengan persepsinya atas pertanyaan tersebut. Tugas kita adalah mencari pertanyaan yang benar untuk jawaban tersebut.” Ciptakanlah pembelajaran yang terbuka (divergen) agar berkembang kemampuan berpikir kreatif anak.

5.    Six main pathways to the brain : we learn by what we see, what we hear, what we taste, what we touch, what we smell, and what we do (Gordon Dryden)

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru cenderung lebih banyak menggunakan metode ceramah sehingga para siswa belajar hanya dengan mengandalkan kemampuan menyerap informasi melaui pendengaran saja, padahal setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda sesuai dengan kemampuan belajar yang menonjol pada dirinya (auditory, visual, dan bodilykinestetics). Lebih parah lagi, secara umum terjadi ketika kita melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan metode ceramah, kita menyampaikan presentasi dan eksplanasi yang cenderung “berbicara kepada siswa” ketimbang “berbicara dengan siswa”. Akibatnya, paling tidak (1) komunikasi menjadi satu arah, (2) siswa pasif menerima informasi dan terkesan seperti tong kosong yang siap diisi dengan berbagai informasi yang mungkin saja tidak sesuai dengan harapannya, (3) pembelajaran menjadi teacher center, (4) potensi intelektual, personal, dan sosial siswa  kurang bertumbuh dan berkembang, (5) kurang memacu keterampilan berpikir siswa, (6) kecil kemungkinan terjadi self-discovery learning, dan     (7) kepercayaan diri siswa melemah. Semua itu menyebabkan hasil belajar yang dicapainya tidak maksimal. Oleh karena itu, ciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan semua kemampuan belajar siswa berkembang.

6.    An idea is a new combination of old elements (Gordon Dryden)

Guru seringkali memaksakan konsep atau materi baru yang diajarkan tanpa mempertimbangkan pengetahuan yang telah dimiliki anak. Padahal manusia belajar dan membangun pengatahuannya atas dasar pengetahuan yang sudah dimilikinya. Lakukanlah pembelajaran dimulai dari apa yang sudah diketahui siswa.

Mencermati beberapa pemikiran cemerlang di atas dan kaitannya dengan penyelenggaran pembelajaran, maka kita yakin bahwa (1) semua anak bisa belajar apapun jika mereka senang melakukannya, (2) bagi anak berbakat (bakat intelektual) belajarnya bisa dipercepat (accelerated learning) jika suasana belajar kondusif untuk terjadinya percepatan belajar, (3) pembelajaran bukan hanya mampu meningkatkan kemampuan atau kecerdasan intelektual anak tetapi juga kecerdasan multiple anak.

Metode pembelajaran yang bagaimanakah yang paling baik untuk terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien? Tentu saja tidak ada metode yang paling baik, karena metode pembelajaran sangat terkait dengan karakteristik materi pelajaran, sarana dan keterampilan guru dalam melaksanakannya. Pada prinsipnya, quantum learning menuntut diselenggarakannya kegiatan pembelajaran yang bersifat multi-method dan multi-threat. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan ke depan disarankan mengunakan metode pembelajaran yang bersifat integratif yang mampu membangkitkan seluruh energi pada diri anak didik untuk belajar, salah satu contoh misalnya pembelajaran kooperatif–kolaboratif.

Bagaimana strategi pembelajaran yang harus kita rancang agar dapat mebangkitkan energi belajar pada diri anak didik? Berikut ini disajikan strategi umum yang pada penerpannnya dapat dikembangkan dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi. Strategi yang dimaksud adalah:

1.    Kegiatan pra-instruksional

Keberhasilan guru dalam membelajarakan anak didik diawali dari aktivitasnya dalam mengawali kegiatan pembelajaran (kegiatan pra-instruksional). Apabila pada kegiatan pra-instruksional ini, guru mampu membangkitkan energi belajar pada diri anak didik, maka keberhasilannya dalam membelajarkan anak didik sudah di depan mata. Sebaliknya akan gagal jika pada kegiatan awal guru tidak mampu membangkitkan energi belajar tersebut. Oleh karena itu, strategi yang harus disiasati guru pada kegiatan pra-instruksional adalah mengidentifikasi berbagai alternatif aktivitas maupun ungkapan verbal yang cocok dengan usia anak didik yang dihadapi serta relevan dengan bahan pembelajaran yang akan disampaikan, kemudian dikemas dengan apik dan cermat untuk disajikan mengawali proses pembelajaran.

Suatu bentuk aktivitas pra-instruksional itu dakatakan cocok apabila berdasarkan pemikiran rasional maupun pengalaman empirik sebelumnya, aktivitas tersebut teruji dapat membangkitkan energi belajar berupa:

1)   Kepercayaan diri anak didik, mereka meyakini bahwa dirinya dapat berhasil menguasai bahan yang akan dipelajarinya “saya pasti bisa”.

2)   Meraih minat anak didik, melalui aktivitas dan ungkapan-ungkapan yang disampaikan guru menimbulkan minat dan rasa ingin tahu yang besar pada diri anak didik.

3)   Menciptakan AMBAK, mereka juga meyakini bahwa apa yang akan dipelajarinya memberi manfaat bagi dirinya.

4)   Mendorong timbulnya motivasi belajar yang tinggi pada diri anak didik.

5)   Mengaktifkan mental perancah (scaffolding), apa yang sudah diketahui anak sebelumnya merupakan bahan pengait yang akan menjadi mental perancah guna menguasai bahan pembelajaran baru.

Aktivitas untuk membangkitkan itu semua dapat dilakukan melalui beragam permainan, cerita pengantar diskusi, teka-teki, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya. Prinsipnya hindari aktivitas atau ungkapan verbal yang dapat menimbulkan kontra-produktif.

2.    Kegiatan Utama

Apabila kegiatan pra-instruksional telah berhasil membangkitkan energi belajar sehingga anak didik siap untuk belajar bahan pembelajaran baru, maka langkah selanjutnya adalah merancang kegiatan inti yang memungkinkan anak belajar dalam suasana yang aman, gembira, menyenangkan (tidak tertekan) namun menantang. Bahan pembelajaran baru yang dimaksud meliputi: (1) pengetahuan (knowledge),  (2) keterampilan (skills) baik keterampilan motorik, berpikir, dan berbicara, (3) sikap dan nilai (attitude), serta (4) Pembiasaan bertindak yang didasari oleh integritas kepribadian yang tinggi.

Kegiatan pembelajaran utama pada intinya harus memuat: (1) Penjelasan disertai ilustrasi, analogi, dan metafora yang relevan dengan bahan ajar dan cocok dengan perkembangan intelektual dan emosional anak. Dalam hal ini, usahakan agar terjadi interaksi multi-arah. Artinya jangan sampai terjadi dominasi ada di pihak guru. Lakukanlah teknik “berbicara dengan siswa” bukan “berbicara kepada siswa”. (2) Pemberian contoh dan non-contoh untuk memantapkan pemahaman anak terhadap bahan pembelajaran yang disampaikan. (3) Pemberian latihan yang dapat mengembangkan pemahaman anak terhadap bahan pembelajaran. Mulailah latihan dari hal-hal yang sederhana, dan berilah kesempatan anak yang memiliki potensi lebih pada bidang studi tersebut untuk berlatih lebih banyak. (4) Praktik  untuk membiasakan anak menggunakan apa yang sudah dipelajari ke dalam tindakan-tindakan nyata.

Pada praktiknya, guru dituntut untuk melakukan kegiatan utama ini dengan multi-traits, multi-methods, dan multi-games, sehingga melahirkan lingkungan yang kondusif bagi anak untuk belajar dan mengembangkan seluruh potensinya secara optimal. Guru bisa mengadopsi berbagai permainan dari berbagai media dan memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan untuk digunakan sebagai teknik pembelajaran di kelas .

3.    Kegiatan Penutup

Kegiatan ini merupakan bagian untuk mengevaluasi keberhasilan guru dalam membelajarkan anak didik dan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kegiatan penutup ini juga merupakan sarana bagi guru maupun anak didik untuk mendapatkan umpan balik (feedback) dan penetapan tindak lanjut yang harus dilakukan guru untuk memperbaiki kelemahan, kesulitan dan kekurangan anak didik, serta memperbaiki program pembelajarannya.

Penutup

Hidup sepenuhnya bukan hasil dari keadaan atau lingkungan, tetapi semata-mata adalah hasil VISI terhadap realita di sekitar kita. Sikap dan Visi mempengaruhi semua segi kehidupan, mengatur semua aksi dan reaksi tanpa kecuali. Dengan kata lain, segala perasaan dan tindakan diatur oleh Visi kita.

Kesanggupan kita mewujudkan Visi, bergantung pada keyakinan akan kemampuan diri sendiri. Keyakinan akan kemampuan diri sendiri bertanggung jawab atas sebagian besar dari keberhasilan dan kegagalan kita dalam mewujudkan Visi. Sanggupkah kita melakukan semua apa yang sudah kita bicarakan? Jawabannya hanya Anda yang tahu, karena ada dalam pikiran Anda.

Saya hanya bisa berpesan, kita adalah “gajah” yang besar dan kuat. Dengan kekuatannya, ia dapat dengan mudah mengangkat beban seberat satu ton. Tapi saat ini, kita adalah “gajah” yang sedang terikat pada sebatang kayu kecil oleh seutas tali yang kecil pula, dan hanya bisa menjerit “I CAN’T …………!!!

Penulis, Dr. Nandang Hidayat





MEMBANGKITKAN ENERGI BELAJAR

23 06 2008

Berbicara tentang pendidikan berarti berbicara tentang upaya mengantarkan anak manusia untuk dapat hidup layak dalam lingkungan masyarakatnya kelak. Tetapi seringkali pendidikan justru menyebabkan manusia terasing dari lingkungannya, karena kurang tepatnya arah dan proses penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan. Seperti halnya terjadi dalam proses penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Kurikulum berorientasi pada isi (content) yang selama ini digunakan telah mengarahkan proses pendidikan pada pengembangan kemampuan kognitif yang tidak seimbang dengan pengembangan kemampuan pada aspek lain seperti afektif, psikomotor, dan kreativitas serta terlepas dari lingkungan, sehinga manusia yang dihasilkan tidak mampu hidup layak dan tidak kreatif dalam lingkungan kehidupannya. Selain itu, pendidikan kurang mampu mengembangkan potensi (human capacity) yang dimiliki individu secara optimal, tetapi lebih pada pengembangan manusia sebagai suatu sumberdaya yang harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Melihat kenyataan seperti ini, maka amatlah tepat apabila orientasi pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia mulai saat ini dan ke depan lebih diarahkan pada human capacity development (HCD) secara terintegrasi dengan pengembangan kecakapan hidup (life skills) dan bukan human resources development (HRD).

HCD mengacu pada proses pendidikan yang bermuara pada pengembangan seluruh potensi kecerdasan manusia yang bersifat majemuk (multiple intelligence), serta menggali dan mengembangkan keunggulan tersembunyi (hidden excellent) yang dimilikinya. Proses pendidikan seperti ini bisa berlangsung apabila ditunjang oleh suasana lingkungan belajar yang kondusif: ramah, menyenangkan, fleksibel, gembira, multi-cara, multi-indrawi, manusiawi, mengasuh dengan penuh kasih sayang, mengutamakan aktivitas mental-emosional-fisik, bersifat inklusif/mengutamakan kerja sama, mementingkan tujuan, dan berbasis pada hasil. Kondisi seperti ini mendorong peserta didik belajar tanpa tekanan, sehingga dapat membangkitkan energi belajarnya. Sementara itu, HRD lebih mengutamakan pengembangan potensi intelektual sebagai tekanan utama, sehingga melahirkan lingkungan belajar yang kaku, membosankan, behavioristik, verbal, mengendalikan, mengutamakan isi/materi, berorientasi mental kognitif, dan berbasis pada kebutuhan. Kondisi seperti ini menimbulkan energi belajar melemah sehingga peserta didik tidak mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Kecakapan hidup adalah kecakapan yang di miliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Artinya, kecakapan hidup tidak terbatas pada keterampilan untuk berkerja tetapi lebih luas dari itu adalah kecakapan untuk menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan sekaligus mampu mencari dan menemukan pemecahanya. Ada lima kecakapan dasar untuk menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yaitu: 1) Kecakapan mengenali diri (Self-awarness), 2) Kecakapan berpikir (Thiking Skills), 3) Kecakapan sosial (Social Skills), 4) Kecakapan akademik (Academic Skills), dan 5) Kecakapan vokasional (Vocational Skills). Kelima kecakapan dasar ini perlu dikembangkan secara terintegrasi dalam keseluruhan proses pendidikan, agar pendidikan mampu mengantarkan peserta didik untuk bisa hidup layak pada kehidupannya kelak.

Berbagai kondisi pada latar institusi pendidikan akan sangat mempengaruhi terhadap upaya dalam membelajarkan peserta didiknya. Kajian dalam tulisan ini akan memfokuskan pada dua masalah pokok yang terkait dengan tugas guru sebagai ujung tombak keberhasilan institusi pendidikan dalam membelajarkan peserta didiknya.

1. Bagaimana penyelenggaraan proses pendidikan dewasa ini?

2. Bagaimana kegiatan pembelajaran seyogyanya dilakukan guru agar dapat membangkitkan energi belajar pada diri siswa sehingga pembelajaran lebih efektif?

Penyelenggaraan Proses Pembelajaran Dewasa ini

Bagaimana proses penyelenggaraan pembelajaran di institusi pendidikan kita dewasa ini dibandingkan dengan perkembangan masyarakat pada era global? Jika kita telaah secara seksama, paling tidak ada tujuh hal yang menunjukkan ketidak sesuaian antara proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah dengan tuntutan masyarakat global, yaitu :

1. Sekolah masih menyelenggarakan proses pembelajaran yang bersifat umum dan teoritik, sementara pada masyarakat global setiap individu dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah yang bersifat spesifik.

2. Sekolah menuntut setiap siswa untuk mastery matery, sementara di masyarakat setiap individu dituntut untuk sharing jobs and responsibility.

3. Proses pembelajaran di sekolah kurang menuntut siswa untuk menggunakan alat-alat pikirnya (tool-lessthought), sementara di masyarakat dituntut untuk mempu mengunakan peralatan kognitif (cognitive tools) secara optimal.

4. Proses pembelajaran di sekolah lebih mengarah pada pengembangan berpikir simbolik (symbolic thinking), sementara di masyarakat dituntut untuk terlibat secara langsung (direct involved).

5. Di sekolah anak didik cenderung bertindak sebagai penerima informasi yang pasif dan guru bertindak sebagai satu-satunya sumber informasi (dengan segala kekurangan dan kelebihannya), sementara mesyarakat di era global menuntut kemampuan mencari, memilih, dan memilah informasi (information searching).

6. Proses pembelajaran lebih bersifat individual dan kompetitif, sementara pada masyarakat global menuntut kemampuan kooperatif dan kolaboratif.

7. Orientasi tujuan pembelajaran ke arah pengembangan kemampuan kognitif (kecerdasan intelektual) lebih mendominasi dalam proses pembelajaran, sementara masyarakat global menuntut kemampuan kognitif, afektif, psikomotor, dan kreativitas yang terintegrasi (baca: kompetensi).

Jika proses penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung di institusi-institusi pendidikan tidak dapat menyesuaikan dengan tuntutan yang dibutuhkan di masyarakat, pada akhirnya institusi pendidikan tidak akan mampu mengantarkan para peserta didiknya untuk dapat hidup dalam masyarakat tetapi justru sebaliknya akan menyebabkan mereka terasing dari masyarakatnya. Oleh karena itu, institusi pendidikan harus melakukan perubahan proses penyelenggaraan pendidikan secara terus menerus untuk dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Meminjam kata dari Dryden dan Vos secara ekstrim dikatakan bahwa sekolah perlu melakukan revolusi pembelajaran (the learning revolution) agar kita (bukan hanya peserta didik) dapat belajar apapun dengan lebih baik dan lebih cepat dalam masyarakat global yang cenderung cepat berubah dan tak terduga.

diolah dari, Dr. Nandang Hidayat





MASA DEPAN HOME SCHOOLING DI INDONESIA

23 06 2008

Akhir-akhir ini kita sering saksikan mulai banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link & mach yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik. Program pendidikan tersebut sering kita kenal dengan istilah home schooling. Diseluruh dunia terdapat kurang lebih 6 juta home schooling tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Walaupun bagi kalangan praktisi pendidikan sendiri substansi pendidikan home schooling secara simplistis inheren dengan SMP terbuka, SMA terbuka, Universitas terbuka atau yang sekarang sedang trend adalah e-learning, namun memang ada kecenderungan bahwa home schooling agak “berbeda” jika dilihat dari tingkat fleksibilitas dan metodologi pengajarannya. Fleksibilitas konsep pendidikan home schooling memang an-sich mengacu kepada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan/kemauan dan hoby individual (baca : siswa) dengan orientasi cita-citanya bekerja atau menguasai bidang-bidang tertentu yang menjadi harapannya dalam bekerja. Fleksibilitas tersebut juga diukur dari metode belajar-mengajar yang tidak “terbelenggu” oleh dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik. Dengan kata lain konsepsi link & mach memang cenderung lebih efektif jika para siswa belajar dalam tataran konsep pendidikan model ini. Apalagi jika kalangan dunia industri sudah menjalin kerja sama dan membangun hubungan dengan lembaga pendidikan home schooling misalnya mengenai pola standard alternatif bagi kompetensi para lulusan (baca : dalam hal ijasah dan nilai) yang selama ini menjadi domainnya pemerintah.

Untuk menelaah lebih jauh tentang bagaimana pendidikan home schooling ini bisa lebih progresif berkembang di Indonesia, tentu tidak terlepas dari paradigma berfikir masyarakat yang mulai cenderung kritis dan selektif dan tentu saja evaluatif terhadap hasil yang sudah dicapai oleh pendidikan formal yang dikemas dan didesain oleh pemerintah. Secara empiris barangkali salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa terjadi pergeseran dinamika pemikiran masyarakat terhadap pola pendidikan di Indonesia adalah salah satunya dikarenakan para orang tua murid sudah begitu menyadari bahwa sudah lama pendidikan kita di “hantui “oleh tingginya kekerasan sosiologis yang selama ini terjadi dalam interaksi dunia pendidikan kita. Kasus tawuran, seks bebas dan narkoba dikalangan pelajar dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit adalah salah satu faktor yang menyebabkan para orang tua terbangun landasan berfikirnya untuk melakukan terobosan mencari pendidikan alternatif yang relatif “aman” buat anak-anaknya dan rezim diktatorianisme pendidik terhadap peserta didik yang selama ini menjadi budaya dalam pola pendidikan kita juga telah membuka mata sebagian masyarakat terutama para orang tua murid untuk lebih mempertimbangkan putra-putrinya untuk sekolah di pendidikan formal. Realitas lain yang perlu dicermati mengapa pendidikan home schooling ini menjadi pilihan alternatif masyarakat adalah ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sebenarnya pola pendidikan formal di Indonesia belum menyentuh substansi kebutuhan riel tantangan dalam era globalisasi yang harus di respon secara kualitatif oleh peserta didik dengan menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skill mereka ketika mereka beraktivitas (bekerja atau berwirausaha). Memang selama ini bagi sebagian kalangan praktisi pendidikan, mereka menjustifikasi bahwa kebutuhan kompetensi tersebut tetap menjadi skala prioritas yang harus terus dikembangkan dalam setiap jenjang kurikulum. Melalui kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dan sekarang berubah lagi menjadi kurikulum berbasis pengetahuan terpadu ditambah kurikulum lokal yang terus berganti. Konsep dan desain penerapan kurikulum tersebut dilakukan dengan pendekatan pemikiran dan teori tentang kecerdasan berganda, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dengan asumsi bahwa mereka (baca : para pakar dan praktisi pendidikan) menganggap bahwa setiap insan haruslah perlu diakui dan dihargai modalitas belajarnya. Para praktisi pendidikan menerapkan desain konsep pendidikan dalam berbagai strata dengan berupaya mengelaborasi tingkat intelektualitas ide dan gagasan akademiknya dengan pendekatan teoritical education an sich. Kecenderungan teoritical yang intens tersebutlah yang pada akhirnya menimbulkan problematik teoritis dalam dunia pendidikan kita. Implikasinya bisa kita lihat dari terlalu seringnya kurikulum berganti tanpa visi baik content maupun format penerapannya di lapangan. Akibatnya pula bukan cuma para guru yang kesulitan mengintepretasikan dan mengimplementasikan program kurikulum yang dibuat pemerintah, para siswa pun akhirnya “terbelenggu”untuk menerima konsep dan program pendidikan tersebut tanpa reserve. Kasus kontroversi output penerapan standard kelulusan untuk siswa yang baru-baru ini terjadi semakin menjadi salah satu pemicu kuat bagaimana persoalan standard dalam dunia pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting mengapa masyarakat mulai beralih untuk lebih jauh melihat standard bukan secara lokal namun sudah jauh ke standard yang lebih bersifat mondial misalnya standard Amerika sampai standard ketaraf Internasional semisal lembaga pendidikan yang menerapkan sistem ISO dalam program pendidikannya. Dan salah satu aspek yang diangkat oleh program pendidikan home schooling ini adalah standard kompetensi internasional tersebut. Maka terjawab sudah bagaimana seharusnya stakeholders (pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam dunia pendikan) termasuk dalam konteks ini juga pihak perusahaan dan instansi yang menampung dan mengakomodir kebutuhan tenaga kerja para lulusan untuk concern menyikapi maraknya pendidikan alternatif semisal home schooling ini dalam perspektif yang lebih otonom dan komprehensif, termasuk didalamnya memberikan solusi tentang otoritas standard kelulusan dan formalisasi pendidikan yang di atur secara baku dan menjadi domain pemerintah.

Tinggal persoalannya adalah sejauhmana masyarakat lebih selektif memilih pendidikan home schooling ini, tidak semata-mata karena faktor status sosial karena memang biaya program pendidikan ini tidak sedikit (atau sekedar trend) saja. Melainkan karena memang masyarakat kita sudah memahami bagaimana konstalasi dan dinamika dunia pendidikan di era globalisasi ini yang menuntut segi otentitas dan kultur lingkungan mondial berkaitan dengan skill dan kompetensi. Kredibilitas program pendidikan home schooling ini bukan hanya diukur dari tingkat fleksibilitas dan kesan informalistik dengan nuansa yang lebih persuasif dan menyenangkan saja, dimensi belajar mengajar yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu dengan model on the job method maupun off the job method, garansi dan konsepsi link & mach dengan dunia usaha dan industri dan sebagainya. Namun tingkat kredibilitas program pendidikan home schooling ini juga di dasarkan atas legitimasi yang diberikan pemerintah. Apakah pemerintah mau lebih bersikap inklusif atau eksklusif dalam menyoal eksistensi program pendidikan home schooling ini yang nota bene bisa saja mengklaim dirinya setingkat dengan strata pendidikan yang sudah baku di Indonesia. Terlepas memang setiap program pendidikan yang diterapkan di Indonesia apapun itu bentuknya tidak menjamin semua aspek kognitif dan sosial peserta didik terakomodir dengan baik. Seperti halnya program pendidikan home schooling ini yang nota bene jelas tidak menspesifikasikan diri pada aspek sosialisme interaksi dan proses transformasi budaya dan sifat komunitas, namun cenderung individualistik.

Penulis, Andi Trinanda





PENGEMBANGAN AKTIVITAS, KREATIVITAS DAN MOTIVASI SISWA

19 06 2008

Efektivitas pembelajaran banyak bergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, baik yang dilakukan secara mandiri maupun kelompok. Dalam hal ini, E. Mulyasa ( 2003) menekankan pentingnya upaya pengembangan aktivitas, kreativitas, dan motivasi siswa di dalam proses pembelajaran.

Dengan mengutip pemikiran Gibbs, E. Mulyasa (2003) mengemukakan hal-hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajarnya, adalah:

  1. Dikembangkannya rasa percaya diri para siswa dan mengurangi rasa takut;
  2. Memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas terarah;
  3. Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya;
  4. Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter;
  5. Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.

Sementara itu, Widada (1994) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa, guru dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut :

  1. Self esteem approach; guru memperhatikan pengembangan self esteem (kesadaran akan harga diri) siswa.
  2. Creative approach; guru mengembangkan problem solving, brain storming, inquiry, dan role playing.
  3. Value clarification and moral development approach; guru mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan holistik dan humanistik untuk mengembangkan segenap potensi siswa menuju tercapainya self actualization, dalam situasi ini pengembangan intelektual siswa akan mengiringi pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa, termasuk dalam hal etik dan moral.
  4. Multiple talent approach; guru mengupayakan pengembangan seluruh potensi siswa untuk membangun self concept yang menunjang kesehatan mental.
  5. Inquiry approach; guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan proses mental dalam menemukan konsep atau prinsip ilmiah serta meningkatkan potensi intelektualnya.
  6. Pictorial riddle approach; guru mengembangkan metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil guna membantu meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif.
  7. Synetics approach; guru lebih memusatkan perhatian pada kompetensi siswa untuk mengembangkan berbagai bentuk metaphor untuk membuka inteligensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan yang tidak rasional, kemudian berkembang menuju penemuan dan pemecahan masalah secara rasional.

Sedangkan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, menurut E. Mulyasa (2003) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Bahwa siswa akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya;
  2. Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai. Siswa juga dilibatkan dalam penyusunan tersebut;
  3. Siswa harus selalu diberitahu tentang hasil belajarnya;
  4. Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan;
  5. Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu siswa;
  6. Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual siswa, seperti : perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subyek tertentu;
  7. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, rasa aman, menunjukkan bahwa guru peduli terhadap mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.
akhmadsudrajat.wordpress.com