SUMBER BELAJAR ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN

5 06 2008

Teknologi informasi mutakhir yang kini banyak dikenal, bahkan sudah menjadi salah satu kebutuhan manusia, adalah internet. Teknologi ini dapat menjadi ruang pertemuan virtual seluruh warga yang tinggal di muka bumi.

Lewat internet, dunia seakan tak berjarak. Internet serasa telah menihilkan lokasi dan waktu. Komunitas penduduk dunia dapat tergabungkan secara maya melalui teknologi yang luar biasa ini.

Akan tetapi, di Indonesia, fenomena ini rupanya belum dikenal luas oleh masyarakat. Sebagai peranti teknologi yang memiliki manfaat di kebidangan yang beragam, internet belum banyak digunakan masyarakat.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik, hanya ada 2,9 persen rumah tangga Indonesia yang di kediamannya memiliki komputer. Dari jumlah itu, tak sampai 1 persen rumah tangga yang menggunakan sambungan internet di komputernya.

Salah satu penyebab kurangnya antusiasme berinternet di masyarakat boleh jadi karena jumlah rumah tangga yang memiliki telepon, baik telepon kabel maupun telepon genggam, masih terbatas. Baru 12 persen rumah tangga yang tercatat memiliki telepon kabel dan 18 persen yang anggota keluarganya memiliki telepon genggam. Selain itu, jangkauan wilayah yang sudah terlayani penyedia jasa layanan internet belum merata di seluruh wilayah negeri ini. Ditambah pandangan negative terhadap internet, yaitu internet cenderung mengexpose informasi yang amoral seperti pornografi, padahal hal ini bias disiasati.

Sumber belajar
Sebenarnya internet bisa jadi sumber belajar alternatif yang cukup efektif dan efisien. Selama ini, yang umum dikenal sebagai sumber belajar adalah buku dan guru. Padahal, semakin lama sumber belajar tradisional ini semakin terbatas, baik jumlah maupun distribusi. Dalam hal ini internet bisa jadi substitusi yang sifatnya lebih untuk melengkapi, bukan menggantikan peran guru secara keseluruhan

Pemanfaatan sumber belajar menggunakan alat bantu berbasis teknologi dengan media elektronik saat ini sangat umum digunakan di dunia pendidikan. Misalnya, penyebaran ilmu pengetahuan melalui pemutaran sebuah program pelajaran atau film edukasi dari sebuah kaset video atau keping cakram video, juga penggunaan media audio seperti kaset, hingga penggunaan media proyeksi dengan alat bantu komputer.

Kesemua media ini sebenarnya berfungsi hampir sama dengan buku, yakni program yang diputar sesuai kebutuhan. Bedanya, visualisasi pada buku sangat kurang dan tidak semenarik jika dibandingkan visualisasi yang ditampilkan media elektronik.

Paling mutakhir, media komputer berbasis internet menjadi sumber belajar acuan yang cukup digemari sekarang ini. Selain berfungsi sebagai sumber informasi melalui situs-situs yang menyediakan beragam materi, internet adalah media diskusi ilmiah online. Dengan internet, diskusi yang diadakan dapat berlangsung kapan saja dan oleh siapa saja yang tidak berada dalam satu lokasi.

Internet dan pendidikan
Di Indonesia, jumlah siswa dari seluruh jenjang pendidikan saat ini lebih kurang 52 juta orang. Pembelajaran berlangsung dengan bantuan sekitar 3,5 juta guru dan dosen. Rasio total guru dan murid adalah 1 guru untuk 15 siswa, tergolong ideal untuk terjadinya sebuah proses pembelajaran yang efektif dan efisien di kelas.

Meski demikian, jika ditelaah daerah per daerah, angka ideal ini tidak merata. Di beberapa provinsi, kondisi kekurangan guru masih banyak terjadi dengan rasio guru dan murid yang cukup tinggi. Misalnya di DKI Jakarta, Jawa Barat, atau Banten yang memiliki rasio di atas 1 berbanding 20 untuk jenjang SD.

Saat ini jumlah perpustakaan umum sekitar 2.500 unit. Persebaran yang tidak merata dan koleksi buku yang terbatas menjadi salah satu permasalahan perpustakaan di Indonesia. Perpustakaan sekolah pun belum mampu mencapai rasio ideal 1:1 atau satu buku untuk satu siswa. Padahal, untuk memiliki buku dengan cara membeli masih menjadi beban bagi siswa.

Jika keterbatasan akan sumber belajar tradisional menjadi kendala pemerataan kualitas pendidikan, sumber referensi pengetahuan lain harus dicari. Untuk masa ini, internet bisa jadi jawaban alternatif bagi sumber belajar siswa. Kendala jarak, waktu, dan lokasi telah dinihilkan dengan adanya internet. Selain itu, keragaman jenis informasi yang terdapat di dalamnya kadang melebihi pengetahuan seorang guru atau buku.

Akan halnya biaya, pemerintah seharusnya bersedia mengalokasikan dana untuk memasang minimal satu komputer yang memiliki jaringan internet di tiap sekolah.

Saat ini di kebanyakan sekolah berlabel plus sudah mulai mewajibkan komputer berbasis internet sebagai salah satu fasilitas meski belum tersedia di setiap kelas. Namun, sayang, untuk kondisi nasional, jangankan fasilitas komputer, perpustakaan konvensional pun belum bisa ditemukan di seluruh sekolah di Indonesia.

Jika keberadaan ruang komputer saja masih sulit ditemukan di tiap sekolah, jangan harap bisa menghadirkan jaringan internet di dalam sekolah saat ini.
Siswa di Indonesia tampaknya masih harus bersabar untuk dapat melek informasi secara cepat dan mudah.
Diambil dari Litbang Kompas


Aksi

Information

One response

5 06 2008
maftuh

makasih yach atas artikelnya. aku numpang ngutip buat tugas kuliah. skali lagi trims a lot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: