MEMBEDAH HOME SCHOOLING

17 06 2008

Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah “home education”, atau “home-based learning” yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.

Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah “sekolah rumah”. Aku sendiri secara pribadi lebih suka mengartikan homeschooling dengan istilah “sekolah mandiri”. Tapi nama bukanlah sebuah isu. Disebut apapun, yang penting adalah esensinya.

Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.

Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.

Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.

APA PERSAMAAN DAN PERBEDAAN

HOMESCHOOLING DENGAN SEKOLAH REGULER?

Persamaan:

  • Sekolah dan homeschooling merupakan model pendidikan anak.
  • Sekolah dan homeschooling bertujuan untuk mencari kebaikan bagi anak-anak.
  • Sama-sama dapat mengantarkan anak-anak pada tujuan pendidikan.

Perbedaan:

· Sistem di sekolah terstandardisasi, sistem di homeschooling customized sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga

· Pengelolaan di sekolah terpusat (kurikulumnya diatur), pengelolaan homeschooling tergantung orang tua (orang tua memilih sendiri kurikulum dan materi ajar untuk anak)

· Jadwal belajar di sekolah telah tertentu, jadwal belajar homeschooling fleksibel tergantung kesepakatan orang tua-anak.

  • Tanggung jawab pendidikan sekolah didelegasikan orang tua kepada guru dan sekolah, pada homeschooling tanggung jawab sepenuhnya ada di orang tua.
  • Di sekolah, peran orang tua relatif minimal karena pendidikan dijalankan oleh sistem dan guru; pada homeschooling peran orang tua sangat vital dan menentukan keberhasilan pendidikan anak.
  • Pada model belajar di sekolah, sistem sudah mapan dan orang tua tinggal memilih/mengikuti; homeschooling membutuhkan komitmen dan kreativitas orang tua untuk mendesain dan melaksanakan homeschooling sesuai kebutuhan anak.

FILOSOFI PENDIDIKAN

I’m not talking a big thing. Tema ini hanya sekedar memberikan ulasan bahwa cara kita memandang anak dan pendidikan anak akan sangat mempengaruhi cara kita menyelenggarakan homeschooling.

Secara sederhana, filosofi pendidikan adalah kumpulan keyakinan kita -orang tua- tentang bagaimana anak-anak belajar. Keyakinan ini mungkin berasal dari pengalaman pribadi kita, pengamatan, atau merupakan hasil bacaan dan riset pribadi kita.

Filosofi itu biasanya berisi: apa yang kita anggap penting untuk dimiliki anak-anak kita, baik yang bersifat kognitif (pengetahuan), afektif (sikap hidup), maupun psikomotorik (keterampilan). Kita juga perlu terbiasa mengenali apa yang menurut kita paling penting, penting dan kurang penting bagi anak-anak kita agar berhasil dalam kehidupannya, baik mengenai nilai (value), sikap (attitude), maupun keterampilan (skill). Definisi keberhasilan anak pun sangat ditentukan oleh cara kita memandang keberhasilan.

Filosofi ini perlu kita bawa ke alam sadar kita sebagai orang tua karena semua itu mempengaruhi pilihan-pilihan kita dalam memilih model homeschooling buat anak-anak kita.

Tapi, filosofi bukanlah sebuah hal yang statis. Pada umumnya, filosofi pendidikan yang kita percayai akan tumbuh dan berkembang sesuai pertumbuhan anak-anak kita. Seiring dengan proses homeschooling dan pendidikan anak-anak yang berjalan, kita akan selalu mereview nilai-nilai dan filosofi pendidikan yang kita yakini. Ada kalanya, filosofi pendidikan kita dipertajam oleh pengalaman di lapangan. Tetapi, tidak jarang kita harus merevisi filosofi pendidikan yang kita anut karena tak sesuai dengan keadaan di lapangan yang dihadapi oleh anak-anak kita.

Proses pendidikan anak adalah sebuah pengalaman yang menarik bagi seluruh anggota keluarga. Di dalam proses homeschooling, kita dapat terus belajar, membuka diri, dan maju bersama perkembangan anak-anak.

Dengan segala dinamika yang terjadi pada anak-anak dan proses yang dialami bersama selama homeschooling, mungkin sikap bijaksana kita sebagai orang tua adalah mencari keseimbangan antara keteguhan keyakinan (determination) dan keterbukaan (open mindedness) di dalam menjalankan homeschooling bagi anak-anak kita.

HOMESCHOOLING APPROACH

Pada dasarnya homeschooling bersifat unique. Karena setiap keluarga mempunyai nilai dan latar belakang berbeda, setiap keluarga akan melahirkan pilihan-pilihan model homeschooling yang unique.

Pendekatan homeschooling memiliki rentang yang lebar antara yang sangat tidak terstruktur (unschooling) hingga yang sangat terstruktur seperti belajar di sekolah (school at-home).

a. School at-home
b. Unit studies
c. Charlotte Mason atau The Living Book Approach
d. Classical, Waldorf, Montessori, dan Eclectic.
e. Unschooling atau Natural Learning

School at-home approach adalah model pendidikan yang serupa dengan yang diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya tidak di sekolah, tetapi di rumah. Metode ini juga sering disebut textbook approach, traditional approach, atau school approach.

Unit studies approach adalah model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Pendakatan ini banyak dipakai oleh orang tua homeschooling. Dalam pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, dsb), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented).

The Living Books approach adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika), serta mengekspose anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya.

The Classical approach adalah model pendidikan yang dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga tahap perkembangan anak yang disebut Trivium. Penekanan metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan gambar/image).

The Waldorf approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah alternatif Waldorf di Amerika. Karena Steiner berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah, metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool.

The Montessori approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

The Eclectic approach memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau menggabungkan dari sistem yang ada.

Unschooling approach berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN HOME SCHOOLING

Kelebihan homeschooling:

  • Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
  • Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum.
  • Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
  • Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
  • Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb).
  • Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization).
  • Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua

Kekurangan homeschooling:

  • Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua
  • Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
  • Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.
  • Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.

LEARN HOW TO LEARN

Salah satu tantangan besar bagi kita pada era informasi ini adalah bagaimana mencerna informasi dan mengadaptasi perubahan yang berlangsung sangat cepat. Menurut dalil Moore, di era informasi ini ketersediaan informasi berlipat dua kali dalam 18 bulan. Dengan kecepatan yang sangat menakjubkan ini, sebuah informasi atau pengetahuan menjadi sangat cepat usang karena digantikan oleh hal yang baru.

Dalam konteks pendidikan anak, keadaan ini memberikan tantangan tersendiri bagi kita sebagai orang tua. Pengetahuan yang dikuasai anak-anak kita dapat menjadi usang begitu mereka selesai belajar bertahun-tahun di sekolah.

Idealnya, pendidikan melalui sekolah memberikan bekal bagi anak-anak kita agar mampu beradaptasi dengan lingkungan yang nanti akan dihadapinya. Tetapi dengan model pembelajaran di sekolah yang ada saat ini (menghafal atau memasukkan informasi), aku khawatir bahwa semua itu tak memadai lagi. Informasi yang dipelajari di sekolah itu dapat segera usang dan kehilangan relevansinya dengan dunia nyata.

Mungkin, sudah saatnya sekolah (dan orang tua) mengajarkan kepada anak-anak untuk belajar mencari informasi yang dibutuhkannya (learn how to learn). Para guru dan orang tua perlu menyadari bahwa mereka bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan informasi buat anak-anak.

Secara sadar, model pembelajaran yang harus dibangun adalah membangkitkan keingintahuan (curiosity). Keterampilan bertanya dan mencari tahu adalah sebuah modal berharga yang perlu ditumbuhkan terus menerus selama perkembangan anak-anak. Alih-alih berpretensi sebagai orang tua (atau guru) super yang mampu menjawab semua pertanyaan, kita mengenalkan sumber-sumber informasi yang dapat membantu mereka menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Model pengajaran menghafal dan memberikan isi tanpa melibatkan keingintahuan anak sudah semakin usang dan tidak memadai. Model semacam ini justru dapat mematikan keingintahuan anak, sebuah modal yang sangat berharga untuk masa depan dan kelangsungan hidupnya.

Untuk saat ini, mungkin sulit bagi orang tua untuk mengharapkan pendidikan keingintahuan (learn how to learn) pada sistem sekolah yang ada. Oleh karenanya, adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk terlibat sendiri dalam proses pembelajaran anak-anak kita.

Sebagai keluarga Indonesia yang menerapkan homeschooling, aku melihat bahwa homeschooling memiliki peluang yang besar untuk mengajarkan kebiasaan mencari informasi secara mandiri (learn how to learn). Alih-alih hanya berfokus pada materi pengajaran, para orang tua homeschooling perlu memfokuskan arah pendidikan anak-anaknya pada ketrampilan mencari informasi.

Mengajarkan anak-anak untuk mencari informasi yang mereka butuhkan adalah penghalau kekhawatiran yang muncul mengenai kemampuan orang tua homeschooling untuk mengajar anak-anaknya. Ya, orang tua homeschooling bukanlah guru (pengajar) untuk seluruh materi pengajaran bagi anak-anaknya. Menurutku, orang tua homeschooling lebih merupakan mentor yang membantu anak menunjukkan peta jalan (road map) masa depannya.

Kalau orang tua homeschooling memerlukan guru (pengajar), mereka dapat memperolehnya dari sistem modern yang banyak tersedia di manapun juga: guru privat, kursus, pelatihan, tutorial, internet, dan sebagainya.

MANA YANG LEBIH BAIK ANTARA HOMESCHOOLING DAN SEKOLAH REGULER?

Semua sistem pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan. Satu sistem sesuai untuk kondisi tertentu dan sistem yang lain lebih sesuai untuk kondisi yang berbeda. Daripada mencari sistem yang super, lebih baik mencari sistem yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan kondisi kita.

Sistem pendidikan anak melalui sekolah memang umum dan sudah dipraktekkan selama bertahun-tahun lamanya. Saat ini, pendidikan melalui sekolah menjadi pilihan hampir seluruh masyarakat.

Tetapi sekolah bukanlah satu-satunya cara bagi anak untuk memperoleh pendidikannya. Sekolah hanyalah salah satu cara bagi anak untuk belajar dan memperoleh pendidikannya. Sebagai sebuah institusi/sistem belajar, sekolah tidaklah sempurna. Itulah sebabnya, selalu ada peluang pembaruan untuk memperbaiki sistem pendidikan; baik di level filosofi, insitusi, approach, dan sebagainya.

Sebagai sosok yang bertanggung jawab untuk mengantarkan anak-anak pada masa depannya, orang tua memiliki tanggung jawab sekaligus pilihan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Homeschooling menjadi alternatif pendidikan yang rasional bagi orang tua; memiliki kelebihan dan kekurangan inheren di dalam sistemnya.

Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa kita telah memberikan yang maksimal untuk anak-anak kita, dengan segala batasan (constraint) yang kita miliki.


Aksi

Information

One response

23 06 2008
yanda nur

Artikelnya lengkap! Tapi saya minta tolong ada yang mempunyai modul/worksheet untuk homeschooling usia 5 tahun? Kebetulan atau tidak saya ingin menjadikan rumah sebagai projek untuk pembelajaran anak saya yang saya meyakini bisa lebih baik jika dibimbing dengan semacam Projek Unjuk Kerja. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: