MEMBANGKITKAN ENERGI BELAJAR

23 06 2008

Berbicara tentang pendidikan berarti berbicara tentang upaya mengantarkan anak manusia untuk dapat hidup layak dalam lingkungan masyarakatnya kelak. Tetapi seringkali pendidikan justru menyebabkan manusia terasing dari lingkungannya, karena kurang tepatnya arah dan proses penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan. Seperti halnya terjadi dalam proses penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Kurikulum berorientasi pada isi (content) yang selama ini digunakan telah mengarahkan proses pendidikan pada pengembangan kemampuan kognitif yang tidak seimbang dengan pengembangan kemampuan pada aspek lain seperti afektif, psikomotor, dan kreativitas serta terlepas dari lingkungan, sehinga manusia yang dihasilkan tidak mampu hidup layak dan tidak kreatif dalam lingkungan kehidupannya. Selain itu, pendidikan kurang mampu mengembangkan potensi (human capacity) yang dimiliki individu secara optimal, tetapi lebih pada pengembangan manusia sebagai suatu sumberdaya yang harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Melihat kenyataan seperti ini, maka amatlah tepat apabila orientasi pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia mulai saat ini dan ke depan lebih diarahkan pada human capacity development (HCD) secara terintegrasi dengan pengembangan kecakapan hidup (life skills) dan bukan human resources development (HRD).

HCD mengacu pada proses pendidikan yang bermuara pada pengembangan seluruh potensi kecerdasan manusia yang bersifat majemuk (multiple intelligence), serta menggali dan mengembangkan keunggulan tersembunyi (hidden excellent) yang dimilikinya. Proses pendidikan seperti ini bisa berlangsung apabila ditunjang oleh suasana lingkungan belajar yang kondusif: ramah, menyenangkan, fleksibel, gembira, multi-cara, multi-indrawi, manusiawi, mengasuh dengan penuh kasih sayang, mengutamakan aktivitas mental-emosional-fisik, bersifat inklusif/mengutamakan kerja sama, mementingkan tujuan, dan berbasis pada hasil. Kondisi seperti ini mendorong peserta didik belajar tanpa tekanan, sehingga dapat membangkitkan energi belajarnya. Sementara itu, HRD lebih mengutamakan pengembangan potensi intelektual sebagai tekanan utama, sehingga melahirkan lingkungan belajar yang kaku, membosankan, behavioristik, verbal, mengendalikan, mengutamakan isi/materi, berorientasi mental kognitif, dan berbasis pada kebutuhan. Kondisi seperti ini menimbulkan energi belajar melemah sehingga peserta didik tidak mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Kecakapan hidup adalah kecakapan yang di miliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Artinya, kecakapan hidup tidak terbatas pada keterampilan untuk berkerja tetapi lebih luas dari itu adalah kecakapan untuk menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan sekaligus mampu mencari dan menemukan pemecahanya. Ada lima kecakapan dasar untuk menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yaitu: 1) Kecakapan mengenali diri (Self-awarness), 2) Kecakapan berpikir (Thiking Skills), 3) Kecakapan sosial (Social Skills), 4) Kecakapan akademik (Academic Skills), dan 5) Kecakapan vokasional (Vocational Skills). Kelima kecakapan dasar ini perlu dikembangkan secara terintegrasi dalam keseluruhan proses pendidikan, agar pendidikan mampu mengantarkan peserta didik untuk bisa hidup layak pada kehidupannya kelak.

Berbagai kondisi pada latar institusi pendidikan akan sangat mempengaruhi terhadap upaya dalam membelajarkan peserta didiknya. Kajian dalam tulisan ini akan memfokuskan pada dua masalah pokok yang terkait dengan tugas guru sebagai ujung tombak keberhasilan institusi pendidikan dalam membelajarkan peserta didiknya.

1. Bagaimana penyelenggaraan proses pendidikan dewasa ini?

2. Bagaimana kegiatan pembelajaran seyogyanya dilakukan guru agar dapat membangkitkan energi belajar pada diri siswa sehingga pembelajaran lebih efektif?

Penyelenggaraan Proses Pembelajaran Dewasa ini

Bagaimana proses penyelenggaraan pembelajaran di institusi pendidikan kita dewasa ini dibandingkan dengan perkembangan masyarakat pada era global? Jika kita telaah secara seksama, paling tidak ada tujuh hal yang menunjukkan ketidak sesuaian antara proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah dengan tuntutan masyarakat global, yaitu :

1. Sekolah masih menyelenggarakan proses pembelajaran yang bersifat umum dan teoritik, sementara pada masyarakat global setiap individu dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah yang bersifat spesifik.

2. Sekolah menuntut setiap siswa untuk mastery matery, sementara di masyarakat setiap individu dituntut untuk sharing jobs and responsibility.

3. Proses pembelajaran di sekolah kurang menuntut siswa untuk menggunakan alat-alat pikirnya (tool-lessthought), sementara di masyarakat dituntut untuk mempu mengunakan peralatan kognitif (cognitive tools) secara optimal.

4. Proses pembelajaran di sekolah lebih mengarah pada pengembangan berpikir simbolik (symbolic thinking), sementara di masyarakat dituntut untuk terlibat secara langsung (direct involved).

5. Di sekolah anak didik cenderung bertindak sebagai penerima informasi yang pasif dan guru bertindak sebagai satu-satunya sumber informasi (dengan segala kekurangan dan kelebihannya), sementara mesyarakat di era global menuntut kemampuan mencari, memilih, dan memilah informasi (information searching).

6. Proses pembelajaran lebih bersifat individual dan kompetitif, sementara pada masyarakat global menuntut kemampuan kooperatif dan kolaboratif.

7. Orientasi tujuan pembelajaran ke arah pengembangan kemampuan kognitif (kecerdasan intelektual) lebih mendominasi dalam proses pembelajaran, sementara masyarakat global menuntut kemampuan kognitif, afektif, psikomotor, dan kreativitas yang terintegrasi (baca: kompetensi).

Jika proses penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung di institusi-institusi pendidikan tidak dapat menyesuaikan dengan tuntutan yang dibutuhkan di masyarakat, pada akhirnya institusi pendidikan tidak akan mampu mengantarkan para peserta didiknya untuk dapat hidup dalam masyarakat tetapi justru sebaliknya akan menyebabkan mereka terasing dari masyarakatnya. Oleh karena itu, institusi pendidikan harus melakukan perubahan proses penyelenggaraan pendidikan secara terus menerus untuk dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Meminjam kata dari Dryden dan Vos secara ekstrim dikatakan bahwa sekolah perlu melakukan revolusi pembelajaran (the learning revolution) agar kita (bukan hanya peserta didik) dapat belajar apapun dengan lebih baik dan lebih cepat dalam masyarakat global yang cenderung cepat berubah dan tak terduga.

diolah dari, Dr. Nandang Hidayat


Aksi

Information

13 responses

22 08 2008
kang ibing

PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN = TEORI KONSTRUKTIVIS

22 08 2008
kang ibing

kenapa sih pada ogah ke paradigma ini???
sudahlah….
semua kebobrokan pendidikan ini disebabkan karena behaviorisrtik di segala bidang.

Pak Nandang Hidayat tau nggak konstruktivis?????

22 08 2008
kang ibing
22 08 2008
kang ibing

B. Teori Belajar Behaviorisme
1. Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Teori ini menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diram alkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
a. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
b. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
c. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
b. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
4. Social Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

22 08 2008
kang ibing

Teori Belajar Alternatif Konstruktivisme
Teori belajar alternatif konstruktivisme merupakan teori pembelajaran yang kini banyak dianut di kalangan pendidikan di AS. Unsur terpenting dalam konstruktivistik adalah kebebasan dan keberagaman. Kebebasan yang dimaksud ialah kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan pa yang mampu dan mau dilakukan oleh si belajar. Keberagaman yang dimaksud adalah si belajar menyadari bahwa individunya berbeda dengan orang/kelompok lain, dan orang/kelompok lain berbeda dengan individunya.
Menurut Konstruktifisme semua pengetahuan yang kita peroleh adalah hasil konstruksi kita sendiri. Maka sangat kecil kemungkinan adanya transfer pengetahuan dari seseorang kepada orang lain.

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.

Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman

Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

1. Aspek-aspek Pembelajaran Konstruktivistik
Fornot mengemukakan aspek-aspek konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu berkembang.

Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan (disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti membrikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum.

Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.

Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1), mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.

Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, funsi kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.

Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas.

Referensi
http://www.google.com/search?q=cache:qk-KUFpwaPUJ:trimanjuniarso.files.wordpress.com/2008/02/teori-belajar-behavioristik.doc+Teori+Belajar+Behaviorisme&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/

22 08 2008
kang ibing

DAN PERLU DIKETAHUI BAHWA SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA ADALAH : BEHAVIORISTIK SEJATI…..

BUKTINYA : PELAKSANAAN UNAS (Behaviorisme) yang memandang siswa hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
YANG DIAKUI HANYA NILAI DAN NILAI DALAM BENTUK ANGKA….

22 08 2008
kang ibing

Eh tapi memaksakan kehendak juga termasuk behavioristik ya….????

25 08 2008
Amru

Behavioristik / Konstruktivistik / formalistik / positifistik, dll….
Banyak sekali kajian keilmuan tentang belajaran dan pembelajaran di sekitar kita, tapi kadang kita terlalu berkiblat ke salah satu teori dan mengabaikan teori yang lain. Kalau sudah Konstruktivistik maka menolak Behavioristik!
Mengapa kita hanya disibukan dengan menjiplak teori-teori barat ini, memang teori ini juga bermanfaat untuk memajukan pendidikan, tapi kita jangan lupa bahwa Indonesia yang memiliki sejarah kebudayaan dan pendidikan multi dimensi memiliki kekhususan yang terkadang tidak bisa hanya megandalkan satu teori sebagai “obat mujarab”.
Saya termasuk orang yang menganut sistem Konstruktivistik, tapi setelah beberapa lama saya berpegang pada teori ini, analisis lapangan saya menemukan hipotesis bahwa ragam masalah memerlukan tidak hanya satu pendekatan…. Akhirnya saya mencoba fleksible, tidak menggunakan teori terlalu ketat… hasilnya.. Alhamdulillah, Luar biasa.
Behavioristik dibutuhkan tapi setelahnya kita harus konstruktifistik..

25 08 2008
kang ibing

Bagaimana menurut anda tentang UNAS dan sertifikasi untuk guru?
Saya tidak paham maksud mas Amru ttg behavioristik dibutuhkan tapi setelahnya kita harus konstruktivis..

25 08 2008
kang ibing

Oya mas.
Anda salah kalau mengatakan kita hanya sibuk menjipak teori barat. Kalau anda baca sejarah Ki Hajar Dewantoro maka anda akan tahu dan memahami kalau beliau sebagai bapak pendidikan adalah seorang konstruktivis sejati.

http://suciptoardi.wordpress.com/2008/04/02/konstruktivisme-dalam-pemikiran/

25 08 2008
kang ibing

Sebagai tambahan, saya juga bukan anti behaviorisme. Behaviorisme memang untuk pendidikan, tapi untuk pembelajaran saya memakai konstruktivis.

25 01 2009
ananta

Perang opini Nicchh…

5 01 2010
SHEIFUL YAZAN

Ada bedanya berfilsafat dengan berideologi. Berfilsafat adalah menjelajahi seluruh sudut “pasar” menyigi sedalam-dalamnya semua pemikiran. Berideologi adalah membeli kebutuhan yang akan kita pakai. Pakaian yang paling trend untuk pendidikan sekarang adalah konstruktivistik. Memakai pakaian behaviorisme berarti mengingkari perkembangan pemahaman manusia tentang diri mereka.
Dulu, mungkin, pikiran Locke tentang tabularasa adalah selera banyak orang. Tapi semakin lama kesadaran potensi peserta didik sebagai manusia, makin membawa demokratisasi ke dalam pendidikan.
Manusia belajar setiap detik dalam hidupnya. Maka tidak ada manusia yang belajar dari “nol”, pasti ada yang sudah dia miliki sebelumnya. Konstruktivisme mengakui hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: