AUTO-EVALUASI PADA PEMBELAJARAN

31 12 2008

Sebuah pembelajaran yang berhasil membutuhkan motivasi dan keterlibatan pembelajar. Dalam hal ini CECR (Cadre Européen Commun de Référence) menempatkan pembelajar sebagai Pusat dari proses pembelajaran. Untuk itu pembelajar harus tahu tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan serta tahu kemampuan yang dimilikinya

Selama ini, banyak pengajar yang mengukur keberhasilan pembelajarnya melalui tes/ulangan baik tulis maupun lisan. Namun hasil tes tersebut hanya mengukur hasil belajar yang temporer dan tidak dapat menggambarkan bagaimana keberhasilan dari proses belajar tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pengajar adalah pusat dari proses pembelajaran sedangkan pembelajar obyek yang pasif.

Untuk mendapatkan gambaran keberhasilan proses pembelajaran, CECR menyarankan untuk mengadakan auto-evaluasi bagi pembelajar. Auto-evaluasi bukanlah sebuah tes dan juga bukan pengganti tes/ulangan tetapi bersifat melengkapi. Auto-evaluasi tidak memberikan nilai/poin/skor tetapi lebih menunjukkan kemampuan pembelajar setelah proses pembelajaran. Pembelajar harus mengevaluasi diri sendiri, sejauh mana tujuan pembelajar sudah dicapai. Kejujuran dan pengertian adalah kunci utama untuk dapat mengevaluasi diri sendiri. Dengan demikian, peran pengajar adalah sebagai penghubung antara pembelajaran di kelas dan kemampuan pembelajar dalam mengevaluasi diri sendiri.

Kegunaan auto-evaluasi, antara lain:

1. Membantu pembelajar untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pembelajar.

2. Memotivasi pembelajar untuk meningkatkan kemampuan dan berinisiatif mencari cara agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

3. Membantu pengajar untuk mengetahui apakah proses yang dilakukan telah sesuai dengan tujuan dan sasaran.

Salah satu bentuk auto-evaluasi yang bisa kita pakai adalah Portofolio, yang memuat tujuan pembelajaran. Pembelajar diminta untuk mengisinya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki setelah proses pembelajaran selesai. Salah satu kendala yang mungkin muncul adalah ketidakjujuran. Terkadang pembelajar mengisi dengan hal-hal yang baik saja karena khawatir akan berdampak pada nilai akhir. Disinilah pengajar harus menekankan bahwa portofolio bukanlah tes/ujian/ulangan dan tidak diberikan poin/skor. Selain itu juga tidak ada salah atau benar. Portofolio hanyalah gambaran atau pemetaan kemampuan pembelajar untuk mempermudah pembelajar dan pengajar bersama-sama mencapai tujuan dari proses tersebut.





PENILAIAN BELAJAR BERBASIS KELAS

27 06 2008

Kesadaran para ahli pendidikan terhadap rendahnya penguasaan materi dan rendahnya skor hasil tes mendorong terjadinya reformasi dalam pembelajaran. Selain itu, bagaimana anak belajar dan perkembangan teori belajar ikut mendorong reformasi pembelajaran. Reformasi pembelajaran juga diikuti dengan reformasi dalam penilaian belajar.

Reformasi pembelajaran dan penilaian belajar saat ini adalah munculnya gagasan untuk memperbaharui kurikulum.

Kurikulum berbasis kompetensi (kurikulum 2004) mempromosikan bahwa belajar adalah proses membangun kecakapan hidup dan menjalankan kehidupan secara utuh, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan hidup sosial, kecakapan berpikir kritis, kecakapan melakukan penyelidikan untuk memecahkan masalah (kecakapan akademik) dan kecakapan vokasional (Depdiknas, 2002), sedangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan menekankan pada adanya otonomi pembelajaran dan menetapkan capaian hasil belajar yang lengkap dan komprehensif. Reformasi kurikulum diimplementasikan dengan diterapkannya strategi pembelajaran baru, yaitu pembelajaran konstruktivis yang kontekstual (pembelajaran kontekstual) dan penilaian belajar baru yaitu penilaian yang bersifat otentik (authentic assessment) (Pusat Kurikulum, 2001 dan Depdiknas, 2002 b) yang juga disebut dengan penilaian berbasis kelas.

Pembelajaran Kontekstual

Sistem pendidikan dengan “kurikulum berbasis kompetensi” menggunakan paradigma baru yaitu belajar berbasis kompetensi (competence – based learning). Berbeda dengan paradigma lama, pada paradigma lama siswa belajar hanya tentang pengetahuan (sebagai produk ilmu pengetahuan), pada paradigma baru siswa belajar untuk memperoleh kompetensi berupa kecakapan hidup secara menyeluruh yang meliputi : kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan

berpikir rasional, kecakapan menggunakan dan melakukan penyelidikan ilmiah dan kecakapan olah kompetensi.

Kompetensi kecakapan hidup dan menjalankan kehidupan dapat dicapai jika pembelajaran yang diterapkan membawa siswa untuk belajar sesuai dengan pengalaman nyata dan dalam konteks dunia nyata. Pembelajaran yang mempunyai konsep seperti itu disebut “pembelajaran kontekstual”. Suyanto (2002) dalam makalahnya dinyatakan prinsip-prinsip pembelajaran konstekstual adalah : pada pembelajaran perlu ditekankan pentingnya pemecahan masalah, kegiatan belajar dilakukan pada berbagai konteks, siswa belajar sendiri (Student active learning), mencakup konteks siswa yang berbeda-beda (multiculture education), siswa belajar dari sesama / bersama teman (cooperative learning), pada pembelajaran ditekankan adanya latihan berpikir tingkat tinggi, yaitu aplikatif kritis dan kreatif (discovery – inquiry) dan pembelajaran menggunakan strategi penilaian otentik (authentic assessment).

Penilaian Otentik

Penilaian otentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks “dunia nyata”, yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan. Dengan kata lain, assessment otentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia nyata. Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian otentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun berupa perubahan dan perkembangan aktivitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas. Penilaian otentik juga disebut dengan penilaian alternatif. Pelaksanaan penilaian otentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Format penilaian ini dapat berupa : a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), b) tugas (tugas ketrampilan, tugas investigasi sederhana dan tugas investigasi terintegrasi), c) format rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya : portfolio, interview, daftar cek, presentasi oral dan debat).

Beberapa pembaharuan yang tampak pada penilaian otentik adalah : a) melibatkan siswa dalam tugas yang penting, menarik, berfaedah dan relevan dengan kehidupan nyata siswa, b) tampak dan terasa sebagai kegiatan belajar, bukan tes tradisional, c) melibatkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan mencakup pengetahuan yang luas, d) menyadarkan siswa tentang apa yang harus dikerjakannya akan dinilai, e) merupakan alat penilaian dengan latar standar (standard setting), bukan alat penilaian yang distandarisasikan, f) berpusat pada siswa (student centered) bukan berpusat pada guru (teacher centered), dan g) dapat menilai siswa yang berbeda kemampuan, gaya belajar dan latar belakang kulturalnya.

Penilaian Alternatif dalam Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian terhadap siswa tidak hanya mencakup penilaian perubahan atau perkembangan perilaku belajar setelah siswa menempuh suatu pelajaran tertentu. Penilaian terhadap perubahan dan perkembangan diri siswa dalam proses pembelajaran seharusnya juga mencakup : kecakapan dan pengetahuan awal (prior knowledge), aktivitas dan kecakapan yang tampak pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung di kelas, dan aktivitas pengetahuan / kecakapan siswa yang dilaksanakan dan diperoleh di luar kelas atau di lingkungan hidup sehari-hari.

Format penilaian alternatif berupa “portfolio, presentasi oral dan debat, laporan tertulis dan interview” dan penjelasannya sebagai berikut. “Portfolio” adalah format penilaian belajar berupa catatan atau bukti mengenai ketrampilan, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki atau diperoleh siswa dalam proses belajar. Portfolio dapat berisi : hasil tes, laporan praktikum, laporan tugas diluar

kelas, hasil pekerjaan dari tugas-tugas di kelas dan di rumah, catatan hasil kegiatan mandiri yang terkait dengan bahan pelajaran di sekolah. Portofolio sangat berguna bagi guru karena tidak semua assessment dapat dilakukan dan hasilnya tidak dapat diadministrasikan secara langsung oleh guru. Portfolio dapat dibuat oleh guru untuk setiap individu atau kelompok siswa. Disamping itu guru juga dapat meminta kepada siswa untuk membuat portfolio untuk kegiatan dan hasil kegiatan yang dilakukan sendiri baik kegiatan yang ada di dalam kelas maupun kegiatan yang ada di luar kelas. Hal ini dimaksudkan dengan portofolio guru dapat meniali kegiatan, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman siswa baik yang teramati sendiri maupun tidak, baik terhadap kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas, karena portofolio berguna untuk memonitor dan menilai ketrampilan, pengalaman, dan pengetahuan siswa pada unit-unit pembelajaran satu konsep, setengah semester, satu semester atau satu tahun.

Format yang berikutnya adalah “presentasi oral dan debat” adalah format penilaian untuk memonitor dan menilai ketrampilan atau kecakapan siswa dalam mengkomunikasikan pengetahuan dan pengalaman belajarnya secara lisan. Dalam mengkomunikasikan secara lisan sebaiknya dilakukan seseorang siswa atau sekelompok siswa kepada teman sekelas. Agar terjadi interaksi antar siswa, presentasi oral perlu disertai dengan debat atau tanya jawab antara penyaji dengan siswa lain. Dalam presentasi oral dan debat guru dapat menilai ketrampilan berbicara, penguasaan konsep atas materi yang disajikan, ketrampilan logika dan ketrampilan menjawab pertanyaan, ketrampilan menerima pendapat orang lain.

Selain format portofolio dan format presentasi oral, format berikutnya adalah “laporan tertulis” yaitu laporan yang dibuat oleh siswa secara tertulis mengenai ketrampilan, pengelaman dan pengetahuan setelah menyelesaikan tugas tertentu. Penilaian terhadap laporan tertulis dapat meliputi kebenaran penguasaan konsep, kebenaran / ketepatan prosedur pelaksanaan tugas, kebenaran prosedur penulisan laporan, kebenaran penulisan data dan analisis data serta kebenaran penarikan kesimpulan, sedangkan format yang terakhir adalah “interview” yaitu penilaian terhadap ketrampilan, pengalaman dan pengetahuan siswa melalui wawancara. Kegiatan wawancara dapat dilakukan oleh guru, juga dapat dilakukan

oleh siswa sebaya. Melalui wawancara guru dapat mengetahui tingkat keaktifan, kecakapan dan kebenaran penguasaan konsep siswa terhadap materi pelajaran tertentu.

Kesimpulan

Pesan yang harus diperhatikan dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah bahwa pembelajaran bukan lagi hanya sebatas pembelajaran pengetahuan, melainkan pembelajaran mengenai kecakapan untuk memecahkan masalah­masalah hidup, dengan ranah-ranah kecakapan pribadi, hidup sosial, berpikir kritis, dan kecakapan olah ketrampilan. Disamping itu orientasi pembelajaran pada kurikulum berbasis kompetensi adalah pembelajaran kontekstual. Implikasi dari perubahan-perubahan orientasi pendidikan dan pembelajaran adalah pola penilaian pembelajaran. Pola penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah penilaian berbasis kelas atau penilaian otentik.

Hal-hal yang terkait dengan penerapan penilaian otentik atau penilaian berbasis kelas adalah : 1) penilaian belajar tidak dapat hanya dilaksanakan secara eksidental (tes sumatif, ujian akhir) tetapi perlu dilaksanakan secara terus-menerus di dalam proses pembelajaran, dan 2) penilaian belahar tidak hanya mencakup konsep esensial materi pelajaran menurut ahlinya, tetapi juga melibatkan konsep esensial sesuai dengan konteks dunia nyata siswa.

Diperbarui dari: Sutansi

Daftar Rujukan

Depdiknas, 2002, Konsep Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education) Melalui Pendekatan Pendidikan Berbasis Kelas (Broad-Based Education) : Bahan Workshop Sosialisasi Program Pendidikan Menengah Umum Tahun 2002.

Suyanto, 2003. Skenario Pembelajaran : Makalah Disajikan Dalam Semlok Pembelajaran Kontekstual Bagi Guru Pamong Dan Dosen Pembimbing PPL Universitas Negeri Malang : Tanggal 23 – 24 Juni 2003 Di UPT PPL Universitas Negeri Malang. Malang : UPT PPL Universitas Negeri Malang.





MENGEFEKTIFKAN UMPAN BALIK DALAM PEMBELAJARAN

9 06 2008

A. Pendahuluan

Suatu realita sehari-hari, di dalam suatu ruang kelas ketika sesi Kegiatan belajar-mengajar (KBM) berlangsung, nampak beberapa atau sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar. Sebagian besar siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Juga, beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. Ini terjadi karena, guru belum optimal memberdayakan ‘tambang emas’ potensi masing-masing siswa yang sering kali tersembunyi.

Kalau masalah ini dibiarkan dan berlanjut terus, lulusan sebagai generasi penerus bangsa akan sulit bersaing dengan lulusan dari negara-negara lain. Lulusan yang diperlukan tidak sekedar yang mampu mengingat dan memahami informasi tetapi juga yang mampu menerapkannya secara kontekstual melalui beragam kompetensi. Di era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi sekarang ini diperlukan pengetahuan dan keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi, serta melahirkan gagasan kreatif untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan Buku Model Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) ini menyajikan sejumlah gagasan dan langkah profesional, mulai dari prinsip KBM, dilanjutkan dengan ciri KBM, Cara mengelola KBM, Cara menyediakan Pengalaman Belajar, Cara memilih strategi Pembelajaran, dan terakhir, cara mengelola kegiatan lintas kurikulum.

Inti dari paparan materi ini adalah untuk mengembangkan kompetensi peserta didik secara optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik, keadaan sekolah dan tuntutan kehidupan di masa depan. Informasi yang disajikan diharapkan dapat membantu guru untuk mengembangkan gagasan tentang penyediaan strategi mengajar yang mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik. Kegiatan Belajar-Mengajar adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan kegiatan pendidikan di dalam lingkungan sekolah dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah dalam wujud penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik. Ini berarti, diversifikasi kurikulum tidak terbatas pada diversifikasi materi, tetapi juga terjadi pada diversifikasi pengalaman belajar, diversifikasi tempat dan waktu belajar, diversifikasi alat belajar, diversifikasi bentuk organisasi kelas, dan diversifikasi cara penilaian.

Pandangan ini memberikan dampak pada penyelenggaraan KBM. Bila selama ini KBM hanya ditandai kegiatan satu arah penuangan informasi dari guru ke siswa dan hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah maka KBM dengan nuansa Kurikulum Berbasis Kompetensi diindikasikan dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam membangun gagasan/ pengetahuan oleh masing-masing individu dan lazimnya dapat diselenggarakan di beberapa lokasi seperti di kelas, di lingkungan sekolah, di perpustakaan, di laboratorium, di pasar, di toko, di pantai, di tempat rekreasi, di kebun binatang, atau di tempat-tempat lain. Bila dibuat suatu ilustrasi tentang siswa, kegiatan belajar-mengajar (KBM), lulusan, kurikulum, dan lingkungan dalam sebuah sistem. (Brooks, J.G. & Brooks, M.G. 1993: 9-12)

Pada permasalahan ini ada salah satu teknik yang mendukung yaitu umpan balik yang mana umpan balik ini akan saya bahas, bagaiman teknik-teknik mendapatkan umpan balik, diantaranya dengan memancing apersepsi anak didik, memanfaatkan teknik alat bantu akseptabel, dan menggunakan metode yang bervariasi.

B. Memancing Apersepsi Anak Didik

Sebelum saya membahas masalah bagaimana cara memancing apersepsi anak didik, saya akan membahas masalah peranan guru, Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru (Surya, 1997: 108). Guru mempunyai peranan yang amat luas, baik di sekolah, di dalam keluarga, dan di dalam masyarakat.

Disekolah guru berperan sebagai perancang atau perencana, pengelola pengajaran dan pengelola hasil pembelajaran siswa. Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik , yakni sebagai guru. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru, ia harus menunjukkan perilaku yang layak (bisa dijadikan teladan oleh siswanya). Tuntutan masyarakat khususunya siswa dari guru dalam aspek etis, intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. (Tohirin, 2005: 152).

Pengajar perlu mengetahui sejauh mana bahan yang telah dijelaskan dapat dimengerti oleh murid, karena dari sinilah tergantung apakah ia dapat melanjutkan pelajaran atau kuliahnya dengan bahan berikutnya. Bilamana murid belum mengerti bagian-bagian tertentu, pengajar haurs mengulangi lagi penjelasannya. Pada umumnya murid juga tidak tahu sejauh mana bahan yang diterangkan dapat mereka fahami. Hal ini kiranya dapat dimaklumi, karena mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan pengetahuan yang baru saja mereka peroleh. Maka dari itu pengajar harus sedikit memaksa sehingga murid dapat mengerti betul-betul bahan yang diterangkan. Bagaimana hal tersebut dapat dilakukan? Ada berbagai cara untuk itu. Cara paling sederhana adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan selama atau pada akhir jam pelajaan. Dengan cara itu pengajar akan menemukan apa saja yang belum tersampaikan secara jelas.

Segala hal yang ternyata belum dimengerti secara jelas oleh pihak murid. Hendaknya dicatat dan diulangi lagi pada kesempatan berikutnya. Cara lain yang lebih baik dan akan memberi keterangan lebih pasti adalah mengadakan ujian singkat. Serupa dengan yang disebut kwis, di akhir jam pelajaran. Dengan ujian singkat itu murid dipaksa menuliskan. Sejauh mana bahan yang telah diterangkan dapat mereka mengerti. Sering kali cara demikian tidak mungkin terlaksana, karena memerlukan waktu cukup banyak. Namun kadang kala cara tersebut dapat sangat bermanfaat, karena itu salah satu cara memancing apersepasi anak didik.

Umpan balik tidak sama dengan penilaian. Umpan balik hanya dimaksudkan untuk mencari informasi sampai dimana murid mengerti bahan yang telah dibahas. Selain itu murid atau mahasisiwa juga diberi kesempatan untuk memeriksa diri sampai di mana mereka mengerti bahan tersebut. Sehingga mereka dapat melengkapi pengertian-pengertian yang belum lengkap.

Itulah tadi bentuk-bentuk umpan balik yang dimaksudkan untuk melihat. Sejauh mana suatu penjelasan dapat tersampaikan secara baik. Dan dari sini kiranya saya telah mengetahui bahwa ada berbagai macam bentuk umpan balik. Pilihan tentu saja paling tergantung pada pengajar yang bersangkutan sendiri. Hal yang paling penting adalah sejauh mana uraian yang diberikan dapat diterima secara jelas oleh murid. Pada umumnya pengajar kurang memikirkan perlunya mengadakan umpan balik seperti itu. Setelah seluruh kursus atau seluruh rangkaian pelajaran selesai diberikan. Terlihat pada waktu ujian bahwa murid belum mengerti secara baik bahan yang diajarkan. Dan itu berarti suatu keterlambatan. Sebaliknya, bilamana pengajar menyadari pentingnya umpan balik. Maka pengajaran yang ia berikan akan menjadi lebih efektif.

Jam pelajaran selanjutnya tidak mungkin diberikan kalau pengajar tidak tahu secara pasti hasil pelajaran sebelumnya. Pengajar dapat mengetahui hasil pelajaran sebelumnya dengan cara:

  1. Lewat kesan yang diperoleh selama jam pelajaran itu sendiri
  2. Lewat informasi sederhana dari pihak murid melalui pertanyaan-pertanyaan lisan yang diajukan oleh pengajar selama atau setelah jam pelajaran
  3. Lewat informasi tertulis dari pihak murid yang diperoleh melalui ujian singkat
  4. Mempelajari hasil tentamen atau ujian yang diadakan pada akhir kursus (di sini murid dinilai).

Tiga hal yang pertama berhubungan dengan umpan balik yang dilakukan terhadap tiap jam pelajaran atau jam kuliah. Kita sebut hal itu sebagai umpan balik pelajaran atau kuliah. Sedangakan hal yang keempat berhubungan dengan evaluasi pada akhir kursus. Maka kita sebut penilaian kursus. Setiap umpan balik pengajaran menentukan isi pelajaran berikutnya, oleh karena itu jelas, bahwa umpan balik tidak hanya perlu bagi guru, tetapi bagi murid. (Rooijakkers,1993: 10-12)

Peserta didik adalah Sang Anak yang merupakan milik Sang Pencipta dan milik dirinya sendiri, keberhasilannya akan sangat tergantung dari pemanfaatan potensi yang dia miliki. Karenanya keaktifan peserta didik dalam menjalani proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan.

Peserta didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi, baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik, antara lain :

  1. Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif

Sikap guru tampil hangat, bersemangat, penuh percaya diri dan antusias, serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia cerdas berpotensi, merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses, serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik, sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan.

  1. Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran

Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti, maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.

  1. Tersedia fasilitas, sumber belajar, dan lingkungan yang mendukung

Bila di dalam kegiatan pembelajaran telah tersedia fasilitas dan sumber belajar yang “menarik” dan “cukup” untuk mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar maka hal itu juga akan menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan, jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar.

  1. Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik

Agar kesadaran akan potensi, eksistensi, dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh, maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. Sehingga kemampuan individu, pendapat atau gagasan, maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. Dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik, antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi, mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan, memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya.

  1. Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses belajar mengajar.

Perlu diingat bahwa bila terjadi kesalahan dalam hal perlakuan oleh guru di dalam pengelolaan kelas pada waktu yang lalu maka hal itu berpengaruh negatif terhadap kegiatan selanjutnya. Penerapan peraturan yang tidak konsisten, tidak adil, atau kesalahan perlakuan yang lain akan menimbulkan kekecewaan dari para peserta didik, dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keaktifan belajar peserta didik. Karena itu di dalam memberikan sanksi harus sesuai dengan ketentuannya, memberi nilai sesuai kriteria, dan memberi pujian tidak pilih kasih.

  1. Adanya pemberian “penguatan” dalam proses belajar-mengajar.

Penguatan adalah pemberian respon dalam interaksi belajar-mengajar baik berupa pujian maupun sanksi. Pemberian penguatan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan keaktifan belajar dan mencegah berulangnya kesalahan dari peserta didik. Penguatan yang sifatnya positif dapat dilakukan dengan kata-kata; bagus! baik!, betul!, hebat! Namun semua itu tidak disajikan dengan cara berpura-pura tetapi harus tulus dari nurani guru. Dan sebagainya, atau dapat juga dengan gerak; acungan jempol, tepuk tangan, menepuk-nepuk bahu, menjabat tangan dan lain-lain. Ada pula dengan cara memberi hadiah seperti hadiah buku, benda kenangan atau diberi hadiah khusus berupa; boleh pulang duluan atau pemberian perlakuan menyenangkan lainnya.

  1. Jenis kegiatan Pembelajaran menarik atau menyenangkan dan menantang

Agar peserta didik dapat tetap aktif dalam mengikuti kegiatan atau melaksanakan tugas pemebelajaran perlu dipilih jenis kegiatan atau tugas yang sifatnya menarik atau menyenangkan bagi peserta didik di samping juga bersifat menantang. Pelaksanaan kegiatan hendaknya bervariasi, tidak selalu harus di dalam kelas, diberikan tugas yang dikerjakan di luar kelas seperti di perpustakaan, dan lain-lain. Penerapan model “belajar sambil bekerja” (learning by doing) sangat dianjurkan, di jenjang sekolah dasar antara lain dilakukan belajar sambil bernyanyi atau belajar sambil bermain. Untuk lebih mengaktifkan peserta didik secara merata dapat diterapkan pemberian tugas pembelajaran secara individu atau kelompok belajar (group learning) yang didukung adanya fasilitas/sumber belajar yang cukup. Sekiranya tersedia dianjurkan penggunaan media pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat lebih efektif.

  1. Penilaian hasil belajar dilakukan serius, obyektif, teliti dan terbuka

Penilaian hasil belajar yang tidak serius akan sangat mengecewakan peserta didik, dan hal itu akan memperlemah semangat belajar. Karena itu, agar kegiatan penilaian ini dapat membangun semangat belajar para peserta didik maka hendaknya dilakukan serius, sesuai dengan ketentuannya, jangan sampai terjadi manipulasi, sehingga hasilnya dapat obyektif. Hasil penilaiannya diumumkan secara terbuka atau yang lebih baik dibuatkan daftar kemajuan hasil belajar yang ditempel di kelas. Dari daftar kemajuan belajar tersebut setiap peserta didik dapat melihat prestasi mereka masing-masing tahap per tahap.

Jika siswa belum biasa bekerja efektif dalam kelompok, maka guru boleh menetapkan tugas masing-masing anggota kelompok dengan mempertim-bangkan beberapa hal seperti;

· kelompok itu kecil (dua sampai tiga siswa) dan guru menetapkan anggota kelompok

· tugas itu dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat saja

· tugas itu sederhana

· perintah-perintah jelas dan diberikan selangkah-demi-selangkah

· guru perlu menyediakan sumber belajar

· guru menerangkan dengan jelas peran setiap siswa di dalam kelompok

· penilaian bersifat informal dan guru perlu membahas dan mendiskusikan tugas itu dengan siswa

Hal penting dari tugas ini adalah belajar bekerjasama. Untuk siswa-siswa yang sudah lebih berpengalaman bekerja dengan cara ini, guru dapat menetapkan tugas dan karakteristik kelompok yang lebih tinggi/ komplek seperti,

· kelompok dapat lebih besar dan kadang-kadang siswa boleh memilih siapa anggota kelompoknya

· tugas dapat ditambahkan lebih banyak, tetapi dengan batas waktu yang jelas dan ditetapkan oleh guru

· tugas dapat dibagi dalam bagian-bagian atau merupakan suatu pilihan dari sejumlah pilihan yang ditetapkan guru

· beberapa perintah/instruksi pengerjaan tugas membolehkan siswa untuk memberikan saran, misalnya dalam pendekatan, memilih metode eksperimen, atau memutuskan bentuk produk pekerjaan yang akan mereka hasilkan

· beberapa sumber belajar dapat dipilih oleh siswa

· peran siswa dalam kelompok dapat beragam dan beberapa keputusan tentang peran ini dapat dibuat oleh siswa-siswa

· penilaian dapat dibicarakan dengan siswa melalui diskusi informal dengan kriteria terstruktur formal, serta penilaian individual atau kelompok dapat dilakukan kondisi ini, keterampilan bekerjasama turut dikembangkan. Kalau kemandirian siswa/ kelompok mulai tampak, tugas dapat ditingkatkan menjadi tugas-tugas yang lebih luwes, yang mulai melimpahkan sebagian tugas dan penyelesaiannya kepada siswa/ kelompok. Dengan cara seperti ini, siswa akan terdorong untuk melakukan kegiatan lebih mandiri yang dicirikan dengan beberapa hal antara lain;

· mereka memutuskan jumlah dan anggota kelompok

· tugas dapat tersebar untuk masa yang panjang atau lama melalui siswa-siswa berunding dengan guru membahas jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas

· tugas mungkin rumit, para siswa perlu memilah-milah perincian setepatnya dari beberapa bagian pekerjaan

· sumber belajar dapat meliputi beragam media dan bahan

· peran setiap siswa dalam kelompok ditetapkan secara musyawarah untuk mufakat (konsensus) ( Harlen, W. 1987: 9-12)

Ada bebarapa perilaku guru yang disarankan untuk diimplementasikan agar pengajaran yang efektif bisa terwujud, dan bisa memancing apersepsi anak didik, perilaku tersebut adalah:

  • Menggunakan suatu system aturan tertentu dalam menghadapi hal-hal atau prosedur tertentu.
  • Mencegah agar perilaku siswa yang salah tidak berketerusan.
  • Mengarahkan tindakan dengan disiplin secara tepat.
  • Bergerak ke seluruh ruang kelas untuk mengamati siswa.
  • Situasi-situasi yang menggangu diatasi dengan cara-carayang bijaksana (dengan cara-cara non verbal, isyarat, pesan-pesan, kedekatan, kontak mata, dan lain-lain).
  • Memberikan tugas-tugas yang menarik minat siswa, terutama apabila mereka bekerja secara bebas.
  • Menggunakan cara yang memungkinkan siswa melaksanakan tugas-tugas belajar dengan arahan seminimal mungkin.
  • Memanfaatkan waktu pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus terlibat aktif dan produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.
  • Menggunakan cara-cara tertentu untuk mendapatkan perhatian siswa.
  • Tidak memulai berbicara kepada kepada kelas sebelum semua siswa memeberikan perhatian.
  • Menggunakan suatu system pemeriksaan tugas-tugas.
  • Menghubungkan bahan yang diajarkan dengan aktifitas yang harus dilakukan siswa.
  • Menggunakan teknik-teknik yang memberikan kemudahan perpindahan secara beragsur dari aktifitas yang konkret ke yang lebih abstrak.
  • Menggunakan campuran pertanyaan dari peringkat yang rendah dan tinggi.
  • Menyadari apa yang sedang berlangsung di dalam kelas.
  • Dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran.
  • Menunjukkan sikap memelihara, menerima, dan menghargai anak.
  • Memberikan respon yang memdai terhadap makna, perasaan, dan penggalaman peserta didik.
  • Mengarahkan pertanyaan kepada banyak siswa yang berbeda-beda, dan bukan hanya kepada siswa tertentu.
  • Menggunakan berbagai teknik untuk membantu siswa dalam memperbaiki respons yang keliru atau salah.
  • Memberikan penghargaan dan ganjaran untuk memotivasi siswa.
  • Menggunakan kritik yang halus dalam mengomunikasikan harapan kepada siswa yang lebih pandai.
  • Menerima insiatif siswa yang disampaikan melalui pertanyaan, bahasan, atau saran-saran. (Surya: 1997: 144-115)

B. Memanfaatkan Teknik Alat Bantu yang Akseptabel

Ada beberapa macam alat Bantu yang dapat diterima oleh siswa, agar mereka mudah memahami pelajaran diantaranya adalah:

· Audio-Visual

Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film). Tentu saja, cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Pencapaian kompetensi tentang sikap/attitude seperti pada mata pengajaran Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama, akan sangat membantu kalau dikemas dalam suatu cerita tayangan hidup yang menyentuh dimensi emosi dan perasaan. Alat audio visual dapat membantu anak-anak belajar dengan menyajikan dalam bentuk yang kongkrit. Film, film strip, model-model, dan lain memepermudah pengertian tentang konsep dan proses tertentu. Pengalaman belajar berupa eksperimen dalam laboratorium bermanfaat sekali untuk memahami ide atau pengartian yang sulit. (Brooks, J.G. & Brooks, M.G. 1993: 9)

Tak semua murid sanggup belajar dengan cara verbal yang abstrak. Alat audio-visual diperlukan untuk membantu mereka. Akan tetapi tak semua bahan harus disampaikan secara kongkrit. Kebanyakan pelajar dapat dan harus disampaikan secara verbal akan tetapi untuk bagian-bagian tertentu alat audio-visual atau alat intruksional pada umumnya sangat berguna untuk mempermudah dan memepercepat pemahaman bagi murid-murid tertentu.apa yang dikemukakan diatas merupakan usaha uantuk mempertinggi mutu mengajar agar murid-murid dapat memahami apa yang diajarkan tanpa komunikasi yang baik antara guru dan murid proses mengajar-belajar tidak akan berjalan dengan efektif. Sekalipun terdapat komunikasi yang baik masih dapat diharapkan bahwa selalu terdapat kekurang pahaman. Itu sebabnya perlu adanya evaluasi untuk membantu menemukan kekurangan atau kesalahan murid yang dinginkan sebagai “Feedbeck” atau umpan balik agar dapat membantu tiap anak secara individual untuk mengatasi kesulitan belajar dan memahami dengan mencari jalan-jalan lain yang lebih sesuai bagi mereka, tersedia berbagai lat intruksional membuka jalan bagi guru untuk mencari metode-metode lain untuk membantu murid-muridnya.

Dengan demikian guru maupun murid tak perlu lekas putus asa atau jengkel bila dengan metode tertentu tidak tercapai keberhasilan yang harapkan dan jika tidak berhasil menurut cara tertentu masih banyak bagian-bagian lain yang tersedia, bahkan dapat di cari cara-cara baru. Membantu murid bearti memberikan kesanggupan menolong diri sendirir mengatsasi kesuliatannya sendiri serta kemampuan untuk belajar sendiri. Karena itu guru senantiasa membantu murid untuk mengenal proses belajar, cara belajar atau belajar-belajar yang membawanya kepada penguasaan bahan sampai taraf yang setinggi-tingginya. Dengan demikian perkembangan akan menjadi “self propelling growt” yaitu berkembang atas dorongan dan kemauan sendiri yang kita harapkan akan berlangsung sepanjang hidup. (Nazulia, 1982: 43)

· Visualisasi Verbal

Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran, buku sumber, ensiklopedia, lembar kegiatan/lembar kerja, carta, grafik, table. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks, tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar). Dengan demikian, siswa yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut.

· Audio Verbal

Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. Pada keadaan ini, siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah ada sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. Kalau keadaan ini berkelanjutan, peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. Untuk mengatasinya, guru harus mengurangi cara ini, atau kalau terpaksa perlu berceramah cukup antara 20 – 25 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong Lihat – Raba – Bau – Rasa. Materi yang diceramahkan pun perlu kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. ( Harlen, W. 1987: 12)

· Buku pelajaran, tak semua sama baiknya, hendaknya ada beberapa buku yang harus dimiliki dalam satu pelajaran karena dalam buku yang satu mungkin lebih jelas dan mudah dipahami dalam buku yang lain.

· Buku kerja, di samping buku pelajaran ada buku kerja untuk membantu murid mengenang dan mengelolah buah pikiran pokok dari buku pelajaran.

· Media cetak, seperti buku, modul dan lain-lain. (Nazulia, 1982: 45)

Dalam mengelola kegiatan pembelajaran, guru perlu merencanakan tugas dan alat belajar yang menantang, pemberian umpan balik, dan penyediaan program penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu ‘unjuk kemampuan/ mendemonstrasikan kinerja (performance)’ sebagai hasil belajar. Inti dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat pertanyaan yang mendorong siswa bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah. Para ahli menyebutkan jenis pertanyaan ini sebagai ‘pertanyaan produktif’. Karena itu, dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga memungkinkan semua siswa terlibat baik secara mental maupun secara fisik.

Dengan demikian, sedikitnya ada tiga hal strategis yang perlu dikuasai guru dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran yaitu, penyediaan pertanyaan yang mendorong berpikir dan berproduksi, penyediaan umpan balik yang bermakna, dan penyediaan penilaian yang memberi peluang semua siswa mampu melakukan unjuk-perbuatan.

  • Penyediaan Pertanyaan yang Mendorong Siswa Berpikir dan Berproduksi

Alat mengajar yang paling murah tetapi ampuh adalah bertanya. Pertanyaan dapat membuat siswa berpikir. Apa tujuan Saudara sebagai guru bertanya kepada siswa?


Tujuan bertanya

Mengharap jawaban benar?

Seberapa besar kemungkinan siswa menjawab jika mereka tidak yakin jawabannya benar?

Merangsang siswa berpikir dan berbuat?

Akibatnya siswa sering tak berani menjawab pertanyaan guru sekalipun jawabannya mudah

jika salah satu tujuan mengajar adalah mengembangkan potensi siswa untuk berpikir, maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada ‘merangsang siswa berpikir’. Merangsang berpikir dalam arti ‘merangsang siswa menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabnya’ bukan mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru. Kategori pertanyaan yang termasuk jenis pertanyaan ini antara lain pertanyaan produktif, terbuka, dan imajinatif. Pertanyaan ini dapat digunakan untuk tujuan merangsang siswa berpikir.

Pertanyaan hendaknya dirumuskan sedemikian rupa sehingga siswa melakukan kegiatan meramal (prediksi), mengamati (observasi), menilai diri/ karya sendiri (introspeksi), atau menemukan pola/hubungan. Ada yang menyatakan ‘Jika Anda mengajukan pertanyaan yang baik, sungguh Anda telah mengajar secara baik’. Tujuan guru bertanya hendaknya tidak sekedar, bahkan mungkin harus dihindari, mengharapkan jawaban benar, tetapi lebih untuk merangsang siswa berpikir dan berbuat. Mengharapkan jawaban benar hanya akan membuat siswa tidak berani menjawab jika mereka tidak merasa yakin bahwa jawabannya benar. Berikut kategori pertanyaan beserta contohnya yang diperkirakan dapat merangsang siswa berpikir.

Kategori

Arti

Contoh


Terbuka

Pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar

  1. Mengapa Ibukota Indonesia Jakarta ?
  2. Apa yang akan terjadi jika di kota besar tidak ada pemulung sampah?


Produktif

Pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui pengamatan, percobaan, atau penyelidikan.

  1. Apa perbedaan gerak bekicot di lantai licin dengan di lantai kasar?
  2. Berapa banyak biji buah pepaya ini?

Imajinatif / Interpretatif

Pertanyaan yang jawaban nya diluar benda / gambar / kejadian yang diamati

(Diperlihatkan gambar gadis termenung di pinggir laut)

  1. Apa yang dipikirkan gadis itu?
  2. Mengapa ia berdiri di situ?

(Brooks, J.G. & Brooks, M.G. 1993: 12)

C. Menggunakan Metode yang Bervariasi

Dengan cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid. Usaha guru itu harus di Bantu dengan mengunakan bantuan seperti “feedback” atau umpan balik yang terperinci kepada guru maupun murid, sumber dan metode-metode pengajaran tamabahan di mana saja diperlukan usaha tambahan itu dimaksud untuk memperbaiki mutu pengajaran dan meningkatkan kemampuan anak memahami apa yang diajarkan dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu untuk menguasai bahan pelajaran sepenuhnya.

Feedback atau umpan balik diberikan melalui test-test formatif. Mula-mula bahan pelajaran di bagi dalam satuan-satuan pelajaran. Suatu satuan pelajaran misalnya meliputi bahan pelajaran satu baba atau buku yang dapat dikuasai dalam waktu satu atau dua minggu. Test formatif itu bersifat diagnostik dan serentak menunjukan kemajuan atau keberhasilan anak.

Test formatif ini bermacam-macam fungsinya:

  1. test formatif mempercepat anak belajar dan memberikan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-dungguh dalam waktu secukupnya. Test formatif itu menjamin bahwa tugas pelajaran tertentu di kuasai sepenuhnya sebelum beralih kepada tugas berikutnya.
  2. test formatif di berikan untuk menjamin bahwa semua anak menguasai sepenuhnya syarat-syarat atau bahan apersepsi yang diperlukan untuk memahami bahan pelajaran yang baru. Pada tarap permulaan pelajaran baru test formatif lebih sering diberikan untuk menjamin penguasaan bahan yang diperlukan untuk memahami pelajaran itu selanjutnya. Pada akhir tiap satu pelajaran, test formatif merupakan alat Bantu untuk menjamin penguasaan atas bahan itu secara tertentu.
  3. test formatif juga berguna bagi mereka yang telah memiliki bahan apresepsi yang diperlukan untuk memberi rasa kepastian atas penguasaannya, dengan demikian ia mempunyai rasa percaya akan diri sendiri yang lebih terutama untuk menghadapi pelajaran selanjutnya.
  4. bagaimana murid yang masih kurang menguasai bahan pelajaran test formatif merupakan alat untuk meningkatkan di mana sebetulnya letak kesulitannya. Jadi test formatif adalah alat untuk mendiagnosisi kelemahan, kesulitan dan kekurangan murid, sehingga ia dapat memperbaikinya, disamping menunjukan kekurangan murid perlu pula diberikan petunjuk bagaimana caranya ia dapat memperbaikinya.
  5. test formatif sebaiknya jangan disertai oleh angka. Tujuan yang harus di capai adalah penguasaan penuh. Test formatif dimaksudkan sebagai alat “assessment” yaitu memperoleh keterangan dengan maksud perbaikan, karena itu test formatif merupakan bagian yang integral dari proses belajar. Penguasaan tuntas tidak mungkin tanpa test formatif.

6. test formatif juga memberikan umpan balik pada guru, ia mengetahui dimana terdapat kelemahan-kelemahan dalam metodenya mengajar sehingga ia dapat memperbaikinya atau mencari metode lain (Nazulia, 1982: 47-49)

Banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan dalam menimbulkan feedback antara lain:

  1. Belajar kelompok, belajar atau saling membantu dalam pelajaran. Merid sering lebih paham akan apa yang disampaikan oleh temannya, dari pada guru, biasa cara belajar yang digunakan oleh murid lebih mudah ditangkap oleh murid lain. Maka memanfaatkan batuan murid dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran.
  2. Bantuan tutor, yaitu orang yang dapat membantu murid secara individual. Sebaiknya orang itu jangan gurunya sendiri sehingga ia dapt memberi bantuan dengan cara yang lain dari pada guru itu. Hendaknya di usahakan agar murid selekas mungkin dapat membebaskan diri dari bantuan tutor. Jadi tutor harus mendidik anak agar dapat belajar sendiri.
  3. Pelajaran beprogram, ini juga merupakan bantuan agar murid menguasai bahan pelajaran melalui langkah-langkah pendek, tanpa bantuan guru pelajar akan mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. (Syaipul Bahri Djamarah, 2002: 25)

Secara singkat dan umum, metode sering dipahami sebagai cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam melakuan suatu kegiatan. Berkaitan dengan psikologi belajar, termasuk psikologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, metode-metode tertentu untuk memgumpulkan berbagai data dan informasi penting yang bersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan proses pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran, termasuk proses pembelajaran pendidikan agama Islam, sangat banyak data psikologis. Data itu bisa dikumpulkn dengan berbagai cara

Riset-riset berkenaan dengan pembelajaran, dapat memanfaatkan berbagai metode tertentu seperti:

· Metode Eksperimen

Pada prinsipnya, metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter di dalam laboratorium atau ruang tertentu lainnya. Teknik pelaksanaan metode eksperimen dengan menyesuaikan data yang akan diangkat, seperti data pendengaran siswa, penglihatan siswa dan gerak mata siswa ketika sedang membaca. Selain itu eksperimen dapat pula digunakan untuk mengukur kecepatan bereaksi seorang peserta didik terhadap stimulus tertentu dalam proses belajar.

Alat utama yang sering digunakan dalam eksperimen pada jurusan psikologi pendidikan atau fakultas psikologi di berbagai universitas terkemuka adalah computer dengan berbagai programnya, seperti program cognitive psychology test. Metode eksperimen bagi para psikolog, termasuk psikologi pendidikan, dianggap sebagai metode pilihan, artinya lebih utama untuk digunakan dalam berbagai riset.

· Metode Kuesioner

Penggunaan metode kuesioner dalam riset-riset pendidikan termasuk pendidikan islam dan psikologi pembelajran Pendidikan Agama Islam, relative lebih menonjol apabila dibandingkan penggunaan metode-metode lainnya.

· Metode Studi Kasus

Riset Psikologi Pembelajaran Pendidkan Agama Islam selain menggunakan metode studi kasus. Studi kasus (Icase study) dalam kakian psikologi merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang terperinci mengenai aspek-aspek psikologi seoarang siswa atau sekelompok siswa tertentu.

· Metode Klinis

Metode klinis (clinical method) hanya digunakan oleh para ahli psikologi klinis atau psikiater. Dalam metode ini, terdapat prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara-cara memberi perlakuan pemulihan (psychological treatment) terhadap kelainan jiwa tersebut.

Dalam pelaksanaan penggunaan metodeklinis, peneliti menyediakan benda-benda dan memberi tugas-tugas serta pertanyaan-petanyaan tertentu yang boleh diselesaikan oleh anak secara bebas menurut persepsi dan kehendaknya.selanjutnya, setelah data dari hasil penyelidikan pertama diangkat dan diberi perlakuan khusus, peneliti mengajukan lagi pertanyaan atau tugas tambahan untuk mendukung data yang dihimpun sebelumnya.

Yang perlu dicatat adalah metode klinis pada umumnya hanya diberlakukan untuk menyelidiki anak atau individu yang mengalami penyimpangan perilaku psikologi termasuk perilaku maladaptive behavior atau misbehavior.

Oleh karena itu, penggunaan sarana dan cara yang dikaitkan dengan metode eksperimen yang dilakukan dalam laboratorium, metode klinis juga mementingkan intensitas dan ketelitian yang sungguh-sungguh. Sasaran yang akan dicapai oleh peneliti dengan menggunakan meode klinis, terutama untuk memastikan sebab-sebab timbulnya ketidaknormalan perilaku seseorang siswa atau kelompok kecil siswa. Seterusnya, berdasarkan kepastian faktor penyebab itu, peneliti berupaya memilih dan menentukan cara mengatasi penyimpangan perilaku tersebut.

· Metode Observasi Naturalistik

Metode obsevasi naturalistik merupakan jenis obsevasi yang dilakukan secara alamiah. Dalam hal ini, peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang melakukan penelitian. Awalnya, metode naturalistik lebih banyak digunakan oleh para ahli ilmu hewan untuk mempelajari perilaku hewan tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya, metode observasi naturalistic digunakan oleh para psikolog perkembangan, psikolog kongnitif, an psikolog pendidikan.

Seorang peneliti atau guru yang menjai asistennya dapat mengaplikasikan metode ini lewat kegiatan belajar mengajar atau belajar mengajar dalam kelas-kelas regular, yakni kelas tata dan biasa, bukan kelas yang diadakan secara khusus. Selama proses belajar mengajar berlansung, jenis perilaku siswa diteliti, (misalnya kecepatan membaca), dicatat dalam lembaran format observasi yang khusus dirancang sesuai dengan data dan informasi yang akan dihimpun. (Hamalik, 1992:15)

Beberapa contoh keragaman pengalaman belajar yang mungkin dipilih guru untuk beberapa mata pelajaran meliputi antara lain;

  1. Menggubah syair lagu dan bernyanyi
  2. Melakukan Permainan
  3. Bermain peran
  4. Diskusi (bertanya, menjawab, berkomentar, mendengar penjelasan, menyanggah)
  5. Menggambar dan mengarang
  6. Menulis prosa, puisi, pantun, gurindam
  7. Membaca bermakna
  8. Menyimak untuk menangkap gagasan pokok
  9. Mengisi teka teki
  10. Mengajukan pertanyaan penelitian
  11. Mengajukan pendapat dengan alasan yang logis
  12. Mengomentari
  13. Bercerita
  14. Mendengarkan cerita
  15. Mengamati persamaan dan perbedaan untuk mencari ciri benda
  16. Mendengarkan penjelasan sambil membuat catatan penting
  17. Membuat rangkuman/ sinopsis
  18. Mendemonstrasikan hasil temuan
  19. Mencari pemecahan soal-soal Matematika
  20. Membuat soal cerita
  21. Mengukur panjang, berat, suhu
  22. Merencanakan dan melakukan percobaan
  23. Merencanakan dan melakukan penelitian sederhana
  24. Membuat buku harian
  25. Membuat kamus
  26. Melakukan simulasi dengan komputer
  27. Mengelompokkan sambil mengidentifikasi (mengenali ciri) benda
  28. Mengumpulkan dan mengoleksi benda dengan karakteristiknya
  29. Membuat komik
  30. Membuat ramalan dan berekstrapolasi
  31. Membuat grafik
  32. Membuat diagram
  33. Membuat charta atau grafik
  34. Membuat jurnal
  35. Menyiapkan dan melaksanakan pameran
  36. Menggunakan alat (alat ukur, alat potong, alat tulis)
  37. Praktek ibadah
  38. Praktek menjadi khatib/ pendeta
  39. Praktek berceramah
  40. Praktek budi pekerti
  41. Membuat poster
  42. Membuat model (seperti kotak, silinder, kubus, segitiga, lingkaran)
  43. Menata pajangan
  44. Menata buku perpustakaan
  45. Membuat daftar pertanyaan untuk wawancara
  46. Melakukan wawancara
  47. Membuat denah
  48. Membuat catatan hasil penjelasan/ hasil pengamatan
  49. Membaca kamus
  50. Mencari informasi dari ensiklopedia
  51. Melakukan musyawarah
  52. Mengunjungi dan menemukan alamat situs website
  53. Bernegosiasi
  54. Mendiskusikan wacana dari media cetak/ media elektronik
  55. Membuat cergam
  56. Membuat resensi buku
  57. Mengkritisi suatu artikel
  58. Mengkaji pola tulisan suatu artikel
  59. Menulis artikel ilmiah popular
  60. Membuat kamus
  61. Membuat ensiklopedia
  62. dapat ditambahkan sejumlah kegiatan lain yang mengerahkan keterampilan berpikir dan mengaplikasikan pengetahuan yang sudah diketahui. (Ibrahim, 2003: 23)

Kerja praktik selalu menjadi bagian penting dari pembelajaran beberapa mata pelajaran, khususnya mata pelajaran sains. Namun, kerja praktik tradisional pola-resep atau dengan selangkah-demi-selangkah bukanlah strategi belajar yang efektif.

Ada beberapa cara yang menjamin bahwa siswa-siswa secara aktif terlibat dalam kerja praktik mereka dan bahwa mereka belajar dari pengalaman itu. Cara –cara itu antara lain adalah;

  1. Satu strategi sederhana adalah memberi para siswa perintah-perintah dalam suatu susunan acak. Mereka diberitahu apa yang mereka coba temukan dan kemudian diminta untuk memisahkan perintah-perintah ke dalam susunan yang dapat dikerjakan sebelum mereka memulai eksperimen.
  2. Sebelum memulai eksperimen, mereka hendaklah diminta untuk meramalkan hasil-hasilnya. Pada waktu hasil-hasil sudah diperoleh, mereka diminta untuk memutuskan apakah hasil-hasil sesuai atau tidak dengan ramalan-ramalan mereka. Jika hasil-hasil sesuai dengan ramalan, maka mereka hendaklah menjelaskan mengapa mereka mengharapkan hasil-hasil itu. Jika hasil-hasil tidak sesuai dengan harapan, siswa hendaklah diminta untuk memikirkan-ulang metode eksperimen untuk memutuskan apakah ramalan yang salah atau terdapat kesalahan dalam cara pelaksanaan prosedur eksperimen.
  3. Mereka dapat diberi suatu kumpulan peralatan yang tepat dan suatu pertanyaan untuk diselidiki. Kelas dapat mendiskusikan jenis data yang perlu dikumpulkan. Kemudian, mereka merancang prosedur eksperimennya sendiri, mengumpulkan data dan selanjutnya menyusun suatu kesimpulan.
  4. Mereka dapat diberi pertanyaan penelitian eksperimen terbuka (tidak terbatas), yakni diberi hanya rincian topik yang sedang dibicarakan dan mungkin beberapa gagasan tentang beberapa aspek topik yang akan mereka selidiki. dalam kegiatan seperti itu, mereka perlu merumuskan hipotesis, merancang metode eksperimen, memilih peralatan yang tepat, mengumpulkan data, mengatur data dan menyusun suatu kesimpulan. (Soemanto Wasty, 2003: 43)

Kesimpulan

Teknik-teknik mendapatkan umpan balik, bagaimana memancing apersepsi anak didik, memanfaatkan teknik alat Bantu yang akseptabel, menggunakan metode yang bervariasi, saya dapat menyimpulkan bahwa ada beberapa cara dan metode-metode untuk memancing apersepsi anak didik diantarnaya: menggunakan suatu system aturan tertentu dalam menghadapi hal-hal atau prosedur tertentu, mencegah agar perilaku siswa yang salah tidak berketerusan, mengarahkan tindakan dengan disiplin secara tepat, memberikan tugas-tugas yang menarik minat siswa, terutama apabila mereka bekerja secara bebas, memberikan penghargaan dan ganjaran untuk memotivasi siswa, menggunakan kritik yang halus dalam mengomunikasikan harapan kepada siswa yang lebih pandai, menerima inisiatif siswa yang disampaikan melalui pertanyaan, bahasan, atau saran-saran.

Memanfaatkan teknik alat Bantu yang akspektabel diantaranya: menggunakan alat-alat seperti audio-visual, visualisasi verbal, audio verbal, buku pelajaran, buku kerja, media cetak, dan lagi alat Bantu yang paling penting dan murah adalah pertanyaan. Dengan alat Bantu pertanyaan kita akan lebih mudah memahami apakah anak didik memang benar-benar memahami apa yang kita ajarkan dengan baik.

Menggunakan Metode yang bervariasi antara lain: dengan menggunakan metode Menggubah syair lagu dan bernyanyi, melakukan Permainan , bermain peran, diskusi (bertanya, menjawab, berkomentar, mendengar penjelasan, menyanggah), menggambar dan mengarang, menulis prosa, puisi, pantun, gurindam, membaca bermakna, menyimak untuk menangkap gagasan pokok, mengisi teka teki, mengajukan pertanyaan penelitian ,mengajukan pendapat dengan alasan yang logis, mengomentari, bercerita, mendengarkan cerita, mengamati persamaan dan perbedaan untuk mencari ciri benda, mendengarkan penjelasan sambil membuat catatan penting, membuat rangkuman/ synopsis, mendemonstrasikan hasil temuan, mencari pemecahan soal-soal Matematika, membuat soal cerita, mengukur panjang, berat, suhu, merencanakan dan melakukan percobaan, dan jika ini di hubungkan dengan pendidikan Islam, maka tentunya semuanya harus dilandasi nilai KeIslaman, yaitu dengan memberikan teladan yang baik dan menyelesaikan semua masalah dengan lemah-lembut dan bermusyawarah sesuai dengan tuntunan Agama Islam.





EVALUASI PEMBELAJARAN YANG MEMBELAJARKAN

9 06 2008

Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. (dikutip dari Bloom et.all 1971).

Stufflebeam et.al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.

Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu ;

1. Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyrakat.

2. Evaluasi adalah seni, tidak ada evaluasi yang sempurna, meski dilkukan dengan metode yang berbeda.

3. Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif.

4. Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.

5. Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.

6. evaluasi adalah proses, jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi.

7. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi.

8. Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable.

9. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan evaluasi program.
10. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat, bukan terpaku pada angka soalan tes.

Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut.

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran.

Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.

Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu ;
1. Fungsi selektif
2. Fungsi diagnostik
3. Fungsi penempatan
4. Fungsi keberhasilan

Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah ;
1. Perbaikan sistem
2. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat
3. Penentuan tindak lanjut pengembangan

PRINSIP PRINSIP EVALUASI

1. Keterpaduan

2. evauasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran, materi pembelajaran dan metode pengjaran.

3. Keterlibatan peserta didik

4. prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak, karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif, tapi kebutuhan mutlak.

5. Koherensi

6. evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur.

7. Pedagogis

8. Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa.

9. Akuntabel

10. Hasil evaluasi haruslah menjadi aalat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seeprti orangtua siswa, sekolah, dan lainnya.

TEKNIK EVALUASI

Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes.

1. Teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner,daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.

a. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain.

b. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.

c. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai.

d. Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja.

e. Pengamatan atau observasi, adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. (2) Observasi sistematik, pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan.

f. Riwayat hidup, evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut.

2. Teknik tes. Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu :

a. tes diagnostik

b. tes formatif

c. tes sumatif

PROSEDUR MELAKSANAKAN EVALUASI

Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input, proses dan out put. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut :

a. perencanaan (mengapa perlu evaluasi, apa saja yang hendak dievaluasi, tujuan evaluasi, teknikapa yang hendak dipakai, siapa yang hendak dievaluasi, kapan, dimana, penyusunan instrument, indikator, data apa saja yang hendak digali, dsb)

b. pengumpulan data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan)

c. verifiksi data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb)

d. pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik, apakah dengan parametrik atau non parametrik, apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS, SPSS )

e. penafsiran data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu.

PENUTUP

Proses Evaluasi Pembelajaran perlu mendapat penekanan dalam proses pembelajaran. Evaluasi bukanlah semata-mata untuk mendefinisikan murid yang berhasil dan tidak berhasil, melainkan sebuah proses yang akan memperbaiki mutu pembelajaran dan mengetahui seberapa efektif pembelajaran yang dilakukan.

Dimodifikasi dari http://sylvie.edublogs.org