Kegiatan

24 07 2008

SEMINAR DAN LOKAKARYA PENDIDIKAN

TINGKAT NASIONAL

“Peningkatan Kualitas Guru sbg Dream Team Menuju Sekolah Sebagai Syurga”

(Mengimplementasikan Konsep HEAVEN SCHOOL)

LATAR BELAKANG

Tahun Ajaran baru telah datang, melahirkan harapan baru pendidikan yang lebih baik. Tantangan pendidikan ke depan semakin komplek mulai dari Sistem Kurikulum, mutu Pengajar / Guru, Standarisasi Sarana Prasarana Sekolah, Tuntutan Akreditasi, Kesejahteraan Guru, dan Sertifikasi Guru dalam Jabatan.

Ragam tantangan ini mengharuskan Guru dan Sekolah menyiapakan desain strategis agar sekolah tetap mampu menyongsong dan menghadirkan tantangan ini sebagai peluang.

Tidak boleh ada siswa merasa jemu belajar di sekolah, tidak boleh pembelajaran hanya mengandalkan ceramah, dan tidak boleh pembelajaran mengasingkan diri dari teknologi.

Seminar dan Loka Karya ini bermaksud memberi keilmuan agar Guru dan Sekolah siap, serta berhasil mewujudkan Sekolah sebagai syurga (HEAVEN SCHOOL), dengan mengintegrasikan antara Strategi Pembelajaran – Media Pembelajaran dalam Pusat Sumber Belajar dan Teknologi Belajar yang sudah makin canggih. Hasil akhirnya, siswa akan merasa nyaman dan kecanduan sekolah! Guru akan selalu bersemangat menjadi fasilitator pembelajaran dan Sekolah akan menjadi Tempat istimewa yang selalu dirindukan (bukan sekedar tempat formal bertemunya Siswa dengan Guru).

PEMBICARA :

GURU BANGSA

Visi Pendidikan Indonesia,

Mewujudkan Indonesia Sebagai Syurga Pendidikan

HERNOWO

(Praktisi & Penulis Buku-Buku Pendidikan)

Menjadi Guru yang Mempesona

Amunisi Mewujudkan Sekolah Sebagai Syurga

USMAN K.S (Metro TV)

Televisi Sebagai Kotak Ajaib dalam Pembelajaran

PUSTEKOM DEPDIKNAS

Sentuhan Teknologi Belajar di Syurga Pembelajaran

”Komputer dan Internet sebagai Teknologi Belajar”

KETUA UMUM ISTPI

Pusat Sumber Belajar sebagai Heaven School Center

“Pendesainan PSB Yang Heavenable Bagi Pembelajaran”

ASESOR SERTIFIKASI GURU UNESA

Inovasi Pengembangan Teknologi Belajar Mengajar

di Syurga Pembelajaran

(Materi Loka Karya)

WAKTU & TEMPAT :

Convention Hall TELKOM Divre V Surabaya

Sabtu, 09 Agustus 2008

Pukul : 08.00 – 16.00

INVESTASI PESERTA :

Guru / Mahasiswa : Rp. 100.000,-

Masyarakat Umum : Rp. 150.000,-

FASILITAS PESERTA :

Sertifikat, Tas Eksklusif, Seminar Kit, Makalah, Makan Siang,

Keanggotaan EDU Community (Baca Hal EDU Community)

DOOR PRIZE

PENDAFTARAN :

Sekretariat ISTPI Gedung O4 TP FIP Universitas Negeri Surabaya

Kampus Lidah Wetan Surabaya

Cp: Sdr Abror Telp: 031-77963802 / 085854372133

(Karena Tempat Terbatas, Harap Mendaftar Lebih dulu via Telp)

Transfer Investasi: Bank Bukopin Syariah Cabang Surabaya

No Rek. 7703007049 an. M.Nur Kamila Amrullah

Formulir & Bukti Transfer Harap di Faks Ke: 031-5324709

Permintaan Undangan, Kirim email ke: istpi@yahoo.com

PENYELENGGARA :

IKATAN SARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN INDONESIA

BEKERJASAMA DENGAN

PROGRAM KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNESA

PUSAT TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI PENDIDIKAN DEPDIKNAS

PENDUKUNG ACARA :

TELKOM INDONESIA (Divre V Surabaya)

Metro TV, Media Indonesia, Seputar Indonesia

MITRA YATIM MANDIRI Aqiqah dan Catering

SOSRO

FRANS BAKERY





AYAT-AYAT SEKOLAH UNGGUL

1 07 2008

Hakikat pendidikan adalah mengubah budaya. Apa yang sering dilupakan
banyak orang adalah bahwa sekolah-sekolah kita telah memiliki budaya
sekolah (”school culture”) yaitu seperangkat nilai-nilai, kepercayaan, dan
kebiasaan yang sudah mendarah daging dan menyejarah sejak negara ini
merdeka. Tanpa keberanian mendobrak kebiasaan ini, apa pun model
pendidikan dan peraturan yang diundangkan, akan sulit bagi kita untuk
memperbaiki mutu pendidikan.

Sedikitnya ada lima tradisi yang membatu selama ini: (1) orang tua
menganggap sekolahlah yang bertanggung jawab mendidik siswa, (2) orang tua
percaya bahwa program IPA lebih bergengsi daripada program IPS bagi anak
mereka, (3) orang tua percaya bahwa sekolah kejuruan kurang bergengsi, (4)
masyarakat percaya bahwa gelar ke(pasca)sarjanaan merupakan simbol status
sosial, dan (5) pemerintah merasa paling jagoan menyelenggarakan
pendidikan.

Wacana pendidikan kita kini diperkaya oleh seperangkat kosa kata yang
maknanya berimpitan: sekolah percontohan, sekolah percobaan, sekolah
unggul, sekolah akselerasi, dan sejenisnya. Dalam literatur internasional
semua itu lazim disebut lab school, effective school, demonstration
school, experiment school, atau accelerated school, dan sekolah-sekolah
pun diiklankan dengan atribut-atribut magnetis itu.

Senarai kosa kata itu tidak persis bersinonim. Ada nuansa kekhasan pada
masing-masing. Dari semua itu, kosa kata yang paling lazim dipakai adalah
effective school atau sekolah unggul yang didasarkan atas keyakinan bahwa
siswa, apa pun etnis, status ekonomi, dan jenis kelaminnya, akan mampu
belajar sesuai dengan tuntutan kurikulum.

Pendekatan yang ditempuh adalah perencanaan secara kolaboratif antara
guru, administrator, orang tua, dan masyarakat. Data prestasi siswa
dijadikan basis untuk perbaikan sistem secara berkelanjutan. Sekolah
unggul demikian memiliki sejumlah korelat atau ciri pemerlain sebagai
berikut.

Pertama, visi dan misi sekolah yang jelas. Mayoritas sekolah kita belum
mampu– dan memang tidak diberdayakan untuk mampu–mengartikulasikan visi
dan misinya. Visi adalah pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi
semangat, dan obor penerang jalan untuk maju melejit. Misalnya, “SMA
berbasis komputer”, “SD berbasis kelas kecil”, “SMP berbasis IST
(information system technology),” “SMK bersistem asrama,” “Aliyah dengan
pengantar tiga bahasa,” dan sebagainya.

Konsep iman dan taqwa (imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
selama ini terlalu sering dipakai sehingga maknanya tidak jelas,
mengawang-awang, filosofis, dan tidak operasional. Misi adalah dua atau
tiga pernyataan sebagai operasionalisasi visi, misalnya “membangun siswa
yang kreatif dan disiplin,” dan sebagainya. Walau begitu, ada prioritas
yang diunggulkan dalam rentang zaman secara terencana. Prioritas ini
dinyatakan eksplisit dalam rencana kerja tahunan sekolah.

Untuk mengimplementasikan visi dan misi sekolah ada sejumlah langkah yang
mesti ditempuh: (1) pahami kultur sekolah, (2) hargai profesi guru, (3)
nyatakan apa yang Anda hargai, (4) perbanyak unsur yang Anda hargai, (5)
lakukan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, (6) buat menu kegiatan
bukan mandat, (7) gunakan birokrasi untuk memudahkan bukan untuk
mempersulit, dan (8) buatlah jejaring (networking) seluas mungkin.

Kedua, komitmen tinggi untuk unggul. Staf administrasi, guru, dan kepala
sekolah memiliki tekad yang mendidih untuk menjadikan sekolahnya sebagai
sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai
materi pokok dalam kurikulum. Semuanya memiliki potensi untuk
berkontribusi dalam proses pendidikan. Komitmen ini adalah energi untuk
mengubah budaya konvensional (biasa-biasa saja) menjadi budaya unggul.

Ketiga, kepemimpinan yang mumpuni. Kepala sekolah adalah “pemimpin dari
pemimpin” bukan “pemimpin dari pengikut.” Artinya selain kepala sekolah
ada pemimpin dalam lingkup kewenangannya sehingga tercipta proses
pengambilan keputusan bersama (shared decision making). Komunikasi
terus-menerus dilkukan antara kepala sekolah dan para guru untuk memahami
budaya dan etos sekolah yang yang diimpikan lewat visi sekolah itu. Bila
tidak dikomunikasikan terus-menerus, visi itu akan mati sendiri.

Guru juga adalah pemimpin dengan kualitas sebagai berikut: (1) terampil
menggunakan model mengajar berdasarkan penelitian, (2) bekerja secara tim
dalam merencanakan pelajaran, menilai siswa, dan dalam memecahkan masalah,
(3) sebagai mentor bagi koleganya, (4) mengupayakan pembelajaran yang
efisien, dan (5) berkolaborasi dengan orang tua, keluarga, dan anggota
masyarakat lain demi pembelajaran siswa.

Keempat, kesempatan untuk belajar dan pengaturan waktu yang jelas. Semua
guru mengetahui apa yang mesti diajarkan. Alokasi waktu yang memadai dan
penjadwalan yang tepat sangat berpengaruh bagi kualitas pengajaran. Guru
memanfaatkan waktu yang tersedia semaksimal mungkin demi penguasaan
keterampilan azasi. Dalam hal ini perlu dijaga keseimbangan antara
tuntutan kurikulum dengan ketersediaan waktu. Kunci keberhasilan dalam hal
ini adalah mengajar dengan niat akademik yang jelas dan siswa pun
mengetahui niat itu. Mengajar yang berkualitas memiliki ciri sebagai
berikut: (1) organisasi pembelajaran yang efisien, (2) tujuan yang jelas,
(3) pelajaran yang terstruktur, dan (4) praktik mengajar yang adaptif dan
fleksibel.

Kelima, lingkungan yang aman dan teratur. Sekolah unggul bersuasana
tertib, bertujuan, serius, dan terbebas dari ancaman fisik atau psikis,
tidak opresif tetapi kondusif untuk belajar dan mengajar. Siswa diajari
agar berperilaku aman dan tertib melalui belajar bersama (cooperative
learning), menghargai kebinekaan manusiawi, serta apresiasi terhadap
nilai-nilai demokratis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa suasana
sekolah yang sehat berpengaruh positif terhadap produktivitas, semangat
kerja, dan kepuasan guru dan siswa.

Keenam, hubungan yang baik antara rumah dan sekolah. Para orang tua
memahami misi dan visi sekolah. Mereka diberi kesempatan untuk berperan
dalam program demi tercapainya visi dan misi tersebut. Dengan demikian,
sekolah tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga orang tua sebagai anggota
keluarga sekolah yang dihargai dan dilibatkan.

Dengan melibatkan mereka pada kegiatan ekstra di akhir pekan (extra
school) misalnya, siswa sadar bahwa orang tuanya menghargai kegiatan
pendidikan, sehingga mereka pun menghargai pendidikan yang dilakoninya.
Inilah contoh konkret hubungan tripatriat sekolah-siswa-orang tua.
Upacara-upacara yang dihadiri orang tua sesungguhnya merupakan kesempatan
untuk membangun citra sekolah dan untuk merayakan visi dan misi.
Singkatnya, sekolah unggul membangun “kepercayaan” dan silaturahmi
sehingga masing-masing memiliki nawaitu tinggi untuk melejitkan prestasi.

Ketujuh, monitoring kemajuan siswa secara berkala. Kemajuan siswa
dimonitor terus- menerus dan hasil monitoring itu dipergunakan untuk
memperbaiki perilaku dan performansi siswa dan untuk memperbaiki kurikulum
secara keseluruhan. Penggunaan teknologi, khususnya komputer memudahkan
dokumentasi hasil monitoring secara terus- menerus.

Evaluasi penguasaan materi pelajaran secara perlahan bergeser dari tes
baku (standardized norm-referenced paper-pencil test) menuju tes berdasar
kurikulum dan berdasar kriteria (curricular-based, criterion-referenced).
Dengan kata lain, evaluasi akan lebih berfokus pada performansi dan
dokumentasi prestasi siswa sebagaimana terakumulasi dalam portofolio.
Dokumentasi prestasi ini bukan hanya untuk guru, tetapi juga untuk
dikomunikasikan kepada orang tua.

Sekolah sebagai sistem juga dimonitor secara berkelanjutan. Artinya
sekolah tidak hanya terampil memonitor kemajuan siswa, tetapi juga siap
mengevaluasi dirinya sendiri. Hasil evaluasi diri ini merupakan bahan bagi
pihak lain (external evaluators) untuk mengevaluasi kinerja sekolah itu.
Inilah makna akuntabilitas publik. Sekolah harus mengagendakan program
rujuk mutu (benchmarking) kepada sekolah lain, sehingga sadar akan
kelebihan dan kekurangan sendiri.

Model sekolah unggul seperti digambarkan di atas akan berwujud bila
sekolah tidak eksklusif bak menara gading, tetapi tumbuh sebagai bagian
dari masyarakat sehingga memiliki kepekaan terhadap nurani masyarakat (a
sense of community). Dalam masyarakat setiap individu berhubungan dengan
individu lain, dan masing-masing memiliki potensi dan kualitas yang dapat
disumbangkan pada sekolah.

Dalam era reformasi tetapi juga dalam keterpurukan ekonomi sekarang ini,
kita merasakan keterbatasan dana dan menyaksikan tuntutan yang semakin
tinggi akan adanya otonomi sekolah, akuntabilitas publik dan tranparansi,
serta adanya harapan besar dari orang tua. Bila ketujuh ayat di atas
dilaksanakan, pendidikan yang diselenggarakan sekolah akan berdampak
dahsyat pada pembentukan manusia kapital di tanah air. ***

Penulis, A. CHAEDAR ALWASILAH

guru besar Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.